MOTIF KAIN TENUN ADAT NTT UNTUK FASAD BANGUNAN
Card image
Diposting oleh - Dinas Parekraf Provinsi NTT, Pada 08 December 2023

MOTIF KAIN  TENUN ADAT  NTT  UNTUK  FASAD  BANGUNAN

 

Paul J. Andjelicus

Perencana Madya Spasial Dinas Parekraf NTT

Anggota IAI Provinsi NTT

 

     Penggunaan motif kain tenun adat pada karya arsitektur merupakan salah satu upaya pelestarian  kain tenun daerah khususnya terkait informasi motif dan makna / simbol dari motif tersebut yang merepresentasikan perkembangan budaya suku dan atau daerah tertentu. Kekayaan motif kain tenun adat NTT  sangat banyak dan bervariasi yang tercatat sekitar 737 ragam motif tenun (Dekranasda NTT,2022). Namun begitu penggunaan motif kain adat dalam desain bangunan  khususnya sebagai bagian eksterior bangunan dan atau fasad bangunan  belum begitu meluas. Fasad bangunan adalah muka bangunan yang yang umumnya menghadap arah jalan yang terdiri dari komponen meliputi  dinding, jendela, pintu,  atap, entrance bangunan  dan ornamen. Selama ini motif tenun adat banyak dipakai utuk kebutuhan  interior bangunan seperti yang selalu hadir di hotel, restoran, bahkan rumah tinggal sebagai unsur hiasan dan point interest ruangan.

 

   Kemudian dalam beberapa tahun  terakhir, penggunaan motif kain tenun adat NTT untuk fasad bangunan mulai dipakai. Penggunan dilakukan melalui pembuatan  motif pada dinding melalui teknik cat atau dilukis. Adapula dibentuk dari plesteran semen. Teknik lain adalah penggunaan panil dinding dekoratif bermotif kain tenun adat yang ditempel pada dinding. Panil ini juga dapat berfungsi sebagai secondary skin (kulit kedua bangunan).

 

   Penulis baru-baru ini melakukan penelitian awal terhadap sejumlah bangunan kantor pemerintah di Kota Kupang yang telah mengunakan motif kain tenun adat NTT pada fasad bangunan. Aspek yang diamati adalah jenis motif, penempatan, fungsi dan penggunaan material untuk aplikasi motif pada fasad bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian  motif kain tenun adat NTT yang ditemukan pada fasad bangunan kantor yang ada saat ini masih sebatas untuk unsur dekoratif saja. Temuan lainnya adalah makna atau simbol dari setiap kain tenun adat dapat dipergunakan sebagai bagian perkuatan karakter bangunan sesuai  fungsi bangunan tersebut.

 

Penggunaan untuk unsur dekoratif

    Penggunaan motif pada fasad bangunan cukup bervariasi. Motif yang  paling banyak dipergunakan adalah  motif geometris, kemudian motif flora. Kebanyakan motif yang dipakai  merupakan motif pengembangan dari motif kain tenun yang dipilih namun tetap tidak meninggalkan bentuk aslinya. Hal ini dilakukan agar menyesuaikan dengan material dan teknik pembuatan yang dilakukan.

 

   Penempatan ornamen motif pada fasad bangunan paling banyak di bagian depan bangunan yang menghadap langsung ke jalan dan tidak untuk keseluruhan bidang bangunan lainnya (samping dan belakang). Bagian depan bangunan merupakan bagian yang  pertama kali dilihat pengunjung, yaitu  meliputi  bagian kanopi entrance bangunan,  bidang sisi kiri dan kanan serta bidang dinding bagian atas kanopi entrance. Pemasangan juga tidak hanya pada dinding masif namun juga pada bagian bukaan (jendela) bangunan.

 

   Fungsi penggunaan motif pada fasad bangunan paling banyak untuk dekoratif atau hiasan,  sementara ada juga beberapa bangunan (Gedung KPP Pratama Kupang dan Gedung UPTD Labkes Provinsi NTT),  yang  panil dinding motif dipakai sebagai pengatur sinar matahari (sun shading) sehingga menciptakan kulit bangunan kedua (secondary skin). Pola fasad yang ditampilkan dari bangunan kantor yang diamati adalah  termasuk fasad bangunan dengan penampilan estetik. Sementara karakter yang diciptakan secara umum adalah karakter netral.  Namun terdapat  bangunan kantor yang mengunakan fasad dengan motif kain tenun untuk menciptakan karakter kuat seperti Gedung DPD NTT di Jl. Polisi Militer.

 

   Sementara dari penggunaan material, sangat bervariasi. Pada bangunan yang dibangun 10 tahun atau lebih, penggunaan motif dilakukan dengan sistem cat langung pada bidang tembok atau dengan pembuatan motif timbul  dari plesteran semen. Kemudian pembuatan motif dari bahan kayu dan multipleks untuk dinding motif yang terlindung atap. Seiring dengan kemajuan teknologi material konstruksi dan teknik pembuatan, beberapa bangunan baru yang diamati telah mengunakan material plat baja dengan pembuatan motif dengan teknik laser cutting. Bahan lainnya adalah papan fabrikasi (seperti papan GRC / glass reinforced cement) yang tahan terhadap cuaca sehingga menjadi dinding eksterior bangunan.

 

Penggunaan untuk memperkuat karakter bangunan

   Karakter bangunan sesuai fungsi bangunan yang dimaksudkan  adalah setiap bangunan memiliki fungsi seperti untuk bangunan perkantoran,  sarana ibadah, pelayanan kesehatan, pendidikan, penginapan, bangunan fungsi rekreasi dan lainnya. Secara umum bangunan untuk fungsi perkantoran menampilkan kesan formil dan kenyamanan dalam memberikan pelayanan yang terbaik, maka motif yang dapat dipakai  adalah motif pola geometris seperti garis dan  bidang segiempat. Motif – motif ini bisa ditemukan di beberapa kain tenun seperti motif geometris pada kain tenun Buna dari Insana Kabupaten TTU atau Motif Boti dari Kabupaten TTS.

 

  Sementara untuk fungsi perkantoran pemerintah sendiri dapat terbagi menjadi 3 (tiga) fungsi sesuai Konsep Trias Politika yaitu fungsi eksekutif, legislatif dan yudikatif.   Untuk gedung kantor fungsi eksekutif seperti kantor dinas atau badan mempunyai fungsi dan karakter adalah memberikan pelayanan publik yang terbaik, adil dan merata,  netral serta bersifat mengayomi masyarakat. Motif kain tenun adat yang dapat digunakan adalah motif ayam jantan (Sumba Timur) yang melambangkan kehidupan dan pemimpin yang selalu melindungi. Alternatif lain adalah motif tanduk rusa (Sumba Timur) yang melambangkan kebijaksanaan pemimpin yang selalu memperhatikan kehidupan masyarakatnya.

 

  Untuk gedung kantor fungsi legislatif seperti gedung DPRD mempunyai fungsi sebagai tempat mendengar dan menampung aspirasi rakyat serta memperjuangkan aspirasi tersebut dengan produk regulasi yang bermanfaat bagi kehidupan rakyat/masyarakat.  Motif kain tenun adat yang dapat digunakan antara lain Motif Lawo Gambah (Lio, Ende) dengan gambar Burung Garuda yang melambangkan Bhineka Tunggal Ika. Alternatif lainnya adalah Motif Korkase (Amarasi, Kupang) yang artinya Burung Garuda sebagai lambang negara.

 

  Kemudian untuk gedung kantor fungsi yudikatif seperti Kantor Pengadilan mempunyai fungsi sebagai tempat mencari keadilan bagi masyarakat. Motif yang dapat dipakai adalah motif Mata Manuk (Manggarai). Motif ini artinya mata ayam yang  melambangkan Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Lihat.  Perbuatan manusia tidak ada yang luput dari pengamatan Tuhan.  Nilai keadilan dalam setiap putusan hukum menjadi yang utama dan Tuhan akan selalui mengawasi dan menjadi Hakim Tertinggi.

 

  Memperhatikan perkembangan pembangunan berbagai gedung fasilitas publik, dunia arsitektur sebagai salah satu sub unsur dalam industri ekonomi kreatif dan dalam rangka pelestarian kearifan lokal sebagai ekspresi budaya bagi masyarakat dan generasi penerus, maka perlu  disusun  regulasi penggunaan kearifan lokal seperti kain tenun adat NTT dalam arsitektur bangunan untuk melahirkan ciri khas dan identitas  Kota Kupang dan kota di Provinsi NTT, agar berbeda dengan kota lain. Kehadiran bangunan dengan ciri khas kearifan lokal dapat memberikan daya tarik wisata bagi perkembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif di NTT.



Artikel Lainnya


Menengok Pelatihan Barista di Kabupaten Manggarai Timur : Membangun Kapasitas Lokal untuk Meningkatkan Ekonomi Kreatif

POTENSI WISATA BAHARI NTT ( PULAU TIMOR)

MATERIAL BAMBU UNTUK DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT

PENTINGNYA PERIZINAN BANGUNAN GEDUNG DALAM USAHA PARIWISATA

PENTINGNYA PERIZINAN BANGUNAN GEDUNG DALAM USAHA PARIWISATA

TREND KE DEPAN, ARSITEKTUR SEBAGAI DAYA TARIK PARIWISATA BAGAIMANA POTENSI DAN PELUANG NTT?

MENATA KAWASAN LELOGAMA, LEMBANGNYA NTT

WISATA TEMATIK DAN DAYA SAING DTW

RESTORASI TERUMBU KARANG DI KAWASAN EKOWISATA PANTAI OESINA KABUPATEN KUPANG

PROGRAM CSR PT. PEGADAIAN GALERI 24 DISTRO KUPANG UNTUK PANTAI WISATA LASIANA

MENJAGA KEDAULATAN RUPIAH DI KAWASAN PERBATASAN RI – TIMOR LESTE

Kota Kreatif

Lomba Geowisata Goes to School

URGENSI PELINDUNGAN HUKUM EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL (EBT) BERDASARKAN PERATURAN DAERAH UNTUK AKSELERASI PEMBANGUNAN PARIWISATA DI NUSA TENGGARA TIMUR

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT (2)

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT

Calendar of Events East Nusa Tenggara 2024

Potret Komponen Pariwisata Kota Atambua Untuk Mengembangkan Wisata Kota Perbatasan

Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata

Menulis Buku Bagi ASN Perencana

Talk Show Radio Alor : Kolaboratif untuk Mewujudkan NTT sebagai New Tourism Territory

Sertifikasi Profesi Terapis Spa Bidang Tata Kecantikan di Kota Kupang

Kegiatan Penanaman Mangrove Nasional Secara Serentak oleh Presiden Republik Indonesia

Penyelenggaraan Sertifikasi Profesi Bidang Tour Guide

SALAM GEOWISATA

TREND WISATA PASCA PANDEMI COVID-19, WISATA BALAS DENDAM?

DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT

RAGAM KULINER RAMADHAN DI KOTA KUPANG SEBUAH DAYA TARIK WISATA BUDAYA

PENYUSUNAN RENSTRA DISPAREKRAF NTT 2024-2026

BIMTEK 75 BESAR ADWI 2023

MPD SEBAGAI METODE PERHITUNGAN KUNJUNGAN WISATAWAN

SOSIALISASI MENYUSUN DUPAK

DINAS PAREKRAF NTT IKUT RAKORTEKRENBANG TAHUN 2023

BIMTEK DAN WORKSHOP ONLINE ADWI 2023 ZONA II

PUNGUT SAMPAH, PEDULI SAMPAH

Mau Belajar Sambil Rekreasi Dalam Kota?....Ayo ke Kebun TAFA

Pentingnya Perlindungan Kekayaan Intelektual bagi Berbagai Karya Cipta, Rasa dan Karsa Manusia

Festival Desa Binaan Bank NTT dan Upaya Pengembangan Ekonomi Kreatif dalam Kerangka Pemberdayaan Masyarakat

PENINGKATAN KAPASITAS PENYELENGGARAAN SAKIP DI PROVINSI NTT

PENYERAHAN BUKU KOLASE WISATA

Focus Group Discussion (FGD) Dukungan Data Penyusunan Grand Desain Pariwisata NTT

PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA LELOGAMA KABUPATEN KUPANG

DISPAREKRAF NTT “ IKUT” PESPARANI NASIONAL II DI KUPANG

EXPO NUSANTARA : DARI NTT UNTUK NUSANTARA

MEREKAM KOTA KUPANG DARI DE MUSEUM CAFE JKK

Workshop Peningkatan Kapasitas Pengelolaan SDGs bagi Sekretariat SDGs Provinsi NTT

BKD PROVINSI NTT SERAHKAN HASIL UJI KOMPETENSI

Transformasi Pariwisata Modern Menuju Era Industri 4.0 Melalui Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional

Dinas Parekraf Provinsi NTT Berduka

Asah Kemampuan Promosi Kreatif ASN Melalui Kegiatan Pelatihan Pemasaran Pariwisata Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)

FESTIVAL GOLO KOE : GELIAT BARU PARIWISATA LABUAN BAJO

Eksotisnya Pantai di Ujung Utara Flores

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT Selenggarakan Pelatihan Implementasi Konsep CHSE

Ruang Terbuka Publik dan Penanganannya

Sosialisasi Input Data Innovative Government Award Tahun 2022

JEJAK SUKACITA FESTIVAL MUSIM DINGIN TAHUN 2022 DI SURGA TERSEMBUNYI TIMOR TENGAH SELATAN

WELCOME LABUAN BAJO

Catatan Kecil Kegiatan Workshop Pengembangan Ekonomi Digital dan Produk Kreatif ASN

KOTA ENDE, KOTA LAHIRNYA PANCASILA

AJANG ANUGERAH PESONA INDONESIA (API) 2022

Workshop Penguatan Kapasitas Sekretariat SDGs Daerah Dalam Pengelolaan Pelaksanaan SDGs

KOTA KUPANG DALAM PAMERAN GAMBAR MALOI KUPANG

Kampung Seni Flobamorata Kupang

Lasiana Beach

KAWASAN PARIWISATA ESTATE NTT : Dimana Batas-Batasnya ? Berapa Luasnya?

Standar Operasional Prosedur Disparekraf Prov. NTT

Standar Pelayanan Publik

Maklumat Pelayanan Publik Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT

DESA GOLO LONI MENAWARKAN WISATA ARUNG JERAM DI FLORES

IDENTIFIKASI DAN WORKSHOP PENGEMBANGAN HOMESTAY DI DESA GOLO LONI KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

Wisata Aman Bencana di NTT

Catatan Perjalanan Wisata di Fatumnasi

KEGIATAN MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

KEGIATAN PRA MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

Membangun Kemandirian Lokal Menjadi Arah Pembangunan NTT 2023

Kemenparekraf Gelar Workshop Pengelolaan Event Daerah Demi Wujudkan Event Berkualitas

RUMAH BUMN, RUMAHNYA INDUSTRI KREATIF

RAPAT KOORDINASI MENDUKUNG CAPAIAN TARGET PESERTA DESA WISATA YANG AKAN MENDAFTAR DI ADWI 2022

SOSIALISASI PENGINPUTAN RKPD NTT TAHUN 2023

Buku Database 2021

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ENDE

Karya Arsitektur sebagai Daya Tarik Wisata

Pertemuan dengan Forkasse (Forum Komunikasi antar sanggar Seni Provinsi NTT)

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ALOR

DINAS PAREKRAF NTT BELAJAR APLIKASI BELA

Outlook Parekraf 2022

Mengenal Dunia Astronomi Melalui Wisata Ke Observatorium Nasional Timau Kabupaten Kupang

PROTOKOL KESEHATAN PADA DESTINASI WISATA

Semauku Indah

MENDATA POTENSI USAHA EKONOMI KREATIF DI KABUPATEN KUPANG

WISATA KOTA, KOTA WISATA

NTT Hijau dalam Pesona 1000 Bonsai

KICKOFF JABATAN FUNGSIONAL ADYATAMA KEPARIWISATAAN DAN EKONOMI KREATIF

PARIWISATA NTT BUTUH BRANDING, GUYS !

Regional Calender Tourism Events 2022

RAKOR PEMBANGUNAN PARIWISATA RING OF BEAUTY NTT

KENYAMANAN RUANG HOMESTAY

SOSIALISASI DAN SIMULASI PANDUAN SERTIFIKASI CHSE PADA PENYELENGGARAAN MICE

MENATA ARSITEKTUR KOTA LABUAN BAJO

KASUS HIV AIDS DI PROVINSI NTT TETAP MENINGKAT

Konsep Desain Monumen di Kelurahan LLBK Kota Kupang

PEMBANGUNAN DI PROVINSI NTT MEMBUTUHKAN HARMONISASI DAN SINKRONISASI

DESA WISATA, DESA WISATA TEMATIK DAN DESA WISATA HIJAU. Mana yang Cocok Untuk NTT?

Reef Check Indonesia Kembangkan Wisata Spesies dan Industri Penunjangnya di Kabupaten Kupang dan Rote Ndao

Simulasi Bencana di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov. NTT

MENDORONG STANDARISASI PELAKU PARIWISATA

Kolaborasi Kemitraan, Disparekraf NTT Gandeng Pelaku Wisata

Upaya Penerapan ISO 9001 : 2015 di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT

PEMBINAAN STATISTIK SEKTORAL PARIWISATA

Catatan Perjalanan ke Liman

Wisata Langit Gelap “Lelogama”

TALK SHOW ONLINE ANTARA BETA, DIA DAN DESTINASI WISATA NTT: KEMARIN, KINI DAN NANTI

Diseminiasi Anggaran Belanja Dinas Parekraf NTT

Konsultasi Publik Penyusunan Dokumen Antara Rencana Zonasi Kawasan Antar Wilayah Laut Bali dan Sekitarnya

Diskusi Konsep Smart Tourism di Indonesia Timur

Rapat Tim Pengelola Website Dinas Parekraf NTT

Bambu dan Prospek Pengembanganya Bagi Ekowisata NTT

Kunjungan Kerja Gubernur NTT ke Kantor Dinas Parekraf NTT

Kunjungan Bupati Malaka

Lokakarya Konsolidasi Pembentukan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana

Pertemuan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana Provinsi NTT

Literasi Desa Koanara Kabupaten Ende

Literasi Obyek Wisata Desa Praimadita Kabupaten Sumba Timur

Literasi Kabupaten Alor

Literasi Lamalera

Profile Kawasan Pariwisata Estate (PE)

MENDORONG KAMPUNG DENGE SEBAGAI PINTU GERBANG KAWASAN WISATA WAEREBO

EVALUASI DESTINASI WISATA PASCA BENCANA ALAM

Tourism Event 2022

WORKSHOP ARSITEK

DISKUSI PUBLIK PARIWISATA AMAN BENCANA DI PROVINSI NTT

MENEMUKAN POTENSI INDENTITAS FISIK KOTA KUPANG

DAYA TARIK WISATA RUMAH ADAT NTT

Belajar dari Utusan Khusus Presiden Seychelles

Pariwisata Nusa Tenggara Timur, Cerah-Cemerlang

Deseminasi Pengelolaan Website Dinas Parekraf NTT

Menggali Spirit of Place Dalam Desain Kawasan Pariwisata Estate NTT

FGD Review RIPPARNAS 2011- 2025

Penerapan CHSE Usaha Pariwisata di Provinsi NTT

Tata Kelola Persampahan Di Destinasi Wisata Super Premium Labuan Bajo

Identifikasi Awal Potensi Geowisata NTT

Waterfront City Kota Kupang Sebagai Destinasi Wisata Kota

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Panen Perdana Sayur Organik

Kajian Pengembangan KSPN Nemberala-Rote dan KSPN Alor-Kalabahi


MEDIA SOSIAL DAN KONTAK


| Dinas Pariwisata Provinsi NTT
| @thenewtourismterritory
| @PariwisataNTT


Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT
Jl. Frans Seda 2 No.72, Kayu Putih, Oebobo, Kota Kupang, 85228
(0380) 826384
082144082555