Outlook Parekraf 2022
Card image
Diposting oleh - Dinas Parekraf Provinsi NTT, Pada 21 January 2022

OUTLOOK PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF 2022

Optimis dengan Inovasi, Adaptasi dan Kolaborasi

 

Paul J. Andjelicus

Perencana Muda Dinas Parekraf NTT

Anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) NTT


       Pandemi Covid-19 belum berakhir. Varian baru mutasi Covid-19, Omicron telah muncul di Afrika Selatan dan menyebar berbagai belahan dunia pada awal Desember 2021 dan sudah masuk ke Indonesia sejak akhir Desember 2021 lalu. Pembatasan kegiatan diperkirakan masih akan terus berlanjut sesuai kondisi setiap negara. Program vaksinasi Covid-19 terus berjalan untuk menahan laju penyebaran Covid-19  dan varian-varianya. Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia  masih akan  menghadapi tantangan berat tahun 2022. Namun Menparekraf Sandiaga Uno, terus menghimbau untuk tetap optimis membangun pariwisata dan ekonomi kreatif karena  ada sekitar 34 juta masyarakat Indonesia yang bekerja  di industri pariwisata.

 

Membangkitkan Sektor Pariwisata di Masa Pandemi Covid-19

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menerapkan 3 strategi utama agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif  Indonesia mampu bangkit dari pandemi Covid-19 ini. Strategi itu adalah inovasi, adaptasi dan kolaborasi. Pemulihan sektor pariwisata selanjutnya dilakukan dengan peningkatan kapasitas SDM, revitalisasi destinasi wisata, peningkatan resiliensi daya saing usaha, perluasan pasar serta  inovasi jasa dan produk wisata.

 

Beberapa  langkah yang  telah dilakukan  pemerintah adalah mendorong percepatan vaksinasi di destinasi wisata, peningkatan SDM pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf), insentif kepada pelaku usaha ekonomi kreatif (ekraf) dan penerapan Cleanliness, Healthy, Safety and Environment Sustainability (CHSE) di destinasi wisata dan industri pariwisata secara keseluruhan.  Proses sertifikasi CHSE di destinasi wisata dan industri pariwisata terus dilakukan untuk menambah keyakinan wisatawan datang ke Indonesia dan menjadi bagian strategi promosi wisata. Upaya lainnya adalah relaksasi regulasi melalui pembukaan border khususnya di Bali dan Kepulauan Riau yang menjadi pintu gerbang utama masuknya wisatawan manca negara (wisman) ke Indonesia secara bertahap.

 

     Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyusun target wisman 2022 sebanyak 1,8 - 3,6 juta kunjungan dengan mengusung konsep pariwisata berkualitas dan berkelanjutan di tengah situasi pandemi Covid-19. Mendorong pariwisata yang berkualitas yang menitikberatkan pada kenyamanan dan pengalaman wisata yang luar biasa.  Disamping itu target ini didukung juga dengan pengembangan Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE). Hal ini mengingat selama pandemi 2 tahun, kunjungan wisman terus menurun. Tahun 2019 kunjungan wisman mencapai sekitar 16 juta, namun pada 2020, jumlah wisman ke Indonesia menurun drastis menjadi  4,05 juta orang dan  2021 menjadi 1,5 juta orang.

 

     Upaya mewujudkan wisata yang berkualitas dilakukan dengan inovasi tiada henti seperti memahami perilaku wisatawan untuk segmentasi pasar dengan destinasi wisata yang memperhatikan aspek higenis dan sanitasi dan pelayanan  customized tourism, paket dibuat sendiri dan khusus untuk komunitas sendri, lebih personil  dan tidak masif. Wisata  virtual perlu terus dikembangkan di masa  pandemi sebagai strategi promosi. Perlu dibangun destinasi wisata  tematik berdasarkan potensi  yang terintegrasi dengan pola perjalanan wisata seperti tematik wisata alam, budaya, olahraga, religi, diving, surfing, kuliner, perkotaan dan perdesaan. Hal ini untuk memberikan pengalaman unik yang luar biasa, tak ternilai sehingga ekspektasi dan imajinasi wisatawan terpenuhi dan terekam  dalam memori kerinduan untuk berkunjung kembali.

 

Untuk membentuk pariwisata yang berkualitas ada beberapa aspek seperti SDM dan infrastruktur. Peningkatan SDM pariwisata tidak bisa ditawar-tawar. Dilakukan  melalui reskilling dan upskilling, sertifikasi kompettensi, pelatihan  digital dan creative marketing, pelatihan kewirausahaan, tata kelola home stay dan desa wisata. Termasuk pendampingan dan kewirausahaan. Infrastruktur turut menjadi aspek yang penting. Menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, untuk sektor pariwisata yang harus dipersiapkan dan diperbaiki adalah infrastruktur, kemudian amenitas dan penyiapan atraksi/event wisata, setelah itu promosi besar-besaran baru dapat dilakukan. Jika hal ini tidak dilakukan, wisatawan datang sekali dan tidak akan kembali lagi. Hal ini akan merusak citra pariwisata Indonesia di mata dunia.

 

    Walaupun begitu, wisatawan nusantara (wisnus) tetap menjadi andalan kebangkitan industri pariwisata selama pandemi Covid-19. Wisatawan nusantara dinilai mampu memicu pergerakan wisata agar tetap berjalan aktif di masa pandemi Covid-19. Wisnus lebih mampu beradaptasi dengan baik dan mengikuti arahan pemerintah menerapkan protokol kesehatan yang ada. Sekitar 260-280 juta pergerakan wisnus dan nilai tambah ekonomi kreatif mencapai Rp1.236 triliun akan menjadi target yang diupayakan tahun 2022 dengan tantangan yang harus dihadapi adalah upaya meningkatkan pengeluaran wisnus selama berwisata.(Kemenparekraf,2021). 

 

Pengembangan Ekonomi Kreatif

      Selama tahun 2020, seluruh sub sektor ekonomi kreatif mengalami pertumbuhan negatif kecuali sub sektor televisi dan radio, aplikasi dan game developer. Hampir semua pelaku ekraf di Indonesia mengalami dampak negatif selama pandemi Covid-19. Sekitar 67 % pelaku ekraf mengalami penurunan pemasukan dan hanya 8 % yang mengalami pertumbuhan omzet (Kemenparekraf,2021).

 

     Pengembangan ekraf dilakukan dengan membangun dan mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif yang secara garis besar dilakukan melalui pengembangan riset, pengembangan pendidikan, fasilitasi pendanaan dan pembiayaan, penyediaan infrastruktur,  pengembangan sistem pemasaran, pemberian insentif, fasilitasi kekayaan intelektual dan pelindungan hasil kreativitas.

 

    Melihat kondisi yang ada maka diperlukan percepatan pembangunan ekraf. Hal ini dengan membangun dan mengembangkan ekosistem ekraf berdasarkan sistem klaster. Salah satu contohnya adalah pengembangan ekosistem ekraf di destinasi wisata seperti 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) dengan fokus pada pengembangan SDM. Isu dasar di 5 DPSP yang ada berbeda sehingga jenis penanganan juga berbeda. Khusus untuk DPSP Labuan Bajo - NTT, isu SDM adalah tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah secara umum, sikap tenaga kerja yang kurang professional dalam melayani, serta penguasan bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya yang rendah. Sehingga dibutuhkan pelatihan SDM terkait penguasaan bahasa asing, kepemanduan, pelayanan prima, pengelolaan homestay, manajemen pariwisata, sertifikasi kompetensi dan digitalisasi. Disamping itu perlu dilakukan pendampingan pengelolaan desa wisata yang ada.

Pengelolaan kekayaan intelektual perlu mendapat perhatian untuk pengembangan sistem inovasi dan pengembangan ekosistem ekraf.  Permasalahan yang dihadapi adalah belum optimalnya komersialisasi Kekayaan Intelektual (KI). Hal ini disebabkan  belum terciptanya ekosistem inovasi (dan juga ekosistem ekraf). Saat ini, Indonesia masih bertumpu pada sektor pemanfaatan sumber daya alam yang bersifat material dengan jumlah cadangan yang terbatas. Sedangkan, Kekayan Intelektual merupakan sektor yang bertumpu pada sumberdaya immaterial yang tidak akan pernah habis, yaitu kemampuan intelektual manusia untuk berpikir kreatif dan inovatif Untuk itu diperlukan peran berbagai stakeholder untuk menggeser paradigma penggunaan sumber daya alam  menjadi optimalisasi sumber daya manusia.

 

Perubahan Perilaku Wisatawan

     Berwisata sudah menjadi kebutuhan semua orang,  tidak hanya bagi kalangan tertentu. Wisata sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Perbedaan terletak pada tujuan dan destinasi wisata yang dipilih. Kelas menengah ke bawah, cenderung memilih destinasi domestik  jarak pendek. Sementara untuk kelas menengah biasanya lebih jauh atau antar kota/wilayah atau bahkan ke luar negeri.

    Pandemi Covid-19 telah menyebabkan perubahan besar-besaran dalam tatanan kehidupan manusia termasuk dalam industri pariwisata sejak tahun 2020. Secara umum, pandemi ini telah mengubah tren perilaku  konsumen sebagai adaptasi dan mampu mengubah pola kehidupan manusia. Terdapat 4 perubahan perilaku konsumen yang baru yaitu: 1). Stay at home life style, karena adanya berbagai pembatasan aktivitas di luar rumah; 2). Perilaku mengutamakan kebutuhan fisiologi yaitu makanan, kesehatan, dan keamanan  jiwa raga: 3). Aktivitas go virtual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan 4). Terbentuknya kepekaan sosial yang tinggi.

    Beberapa perubahan perilaku wisatawan yang terjadi antara lain wisatawan dalam berwisata lebih mengutamakan kesehatan dan kebersihan, menghindari  kerumuman massa dan kontak fisik (physical distancing), mencari pengalaman baru dan unik, pemakaian teknologi/digitalisasi dalam aktivitas wisata.

                  

   Industri pariwisata harus berubah dan beradaptasi dengan kondisi pandemi yang masih terus berlangsung dan perubahan perilaku wisatawan. Transformasi bisnis industri pariwisata diperlukan dan  yang perlu segera dilakukan antara lain penerapan standar kesehatan dan keamanan, transformasi digital, efisiensi dan tenaga kerja yang multitasking sehingga perlu peningkatan skill pekerja untuk adaptasi teknologi dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja multitasking tersebut.

 

Prospek MICE

   Potensi industri pariwisata Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) cukup menjanjikan dengan Jakarta dan Bali sebagai destinasi MICE unggulan yang sudah ada. Beberapa kota lainnya yang punya potensi adalah Bandung, Jogyakarta, Medan, Surabaya dan Makasar. Keberhasilan menyelenggarakan beberapa even  internasional seperti  Badminton Festival 2021 di Nusa Dua Bali selama 1 bulan (November – Desember 2021) dengan protokol kesehatan ketat menjadi contoh positif membangun kepercayaan dunia internasional terhadap industri pariwisata di Indonesia.

 

    Beberapa kegiatan MICE memang telah dibatalkan akibat pandemi  Covid- 19, namun adaptasi baru terus digali sebagai bagian dari inovasi. Bentuk adaptasi industri MICE di masa pandemi adalah yang disebut dengan  New Nor-MICE yang akan mengarah ke konsep hybrid. Menggabungkan pengalaman pertemuan  online dan offline secara bersamaan. Beberapa contoh kegiatan dengan konsep ini adalah Konferensi ASEAN Virtual Summit 2021 dan APACMED Virtual 2020 yang  diselenggarakan secara virtual namun khusus pembicara tetap dihadirkan secara offline dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

 

    Tahun 2022 sejumlah even internasional akan diselenggarakan di Indonesia seperti Moto GP di sirkuit Mandalika NTB dan tentu saja Pertemuan KTT G 20 di Bali dengan Labuan Bajo sebagai side event. Peluang untuk mengembangkan Indonesia sebagai Destinasi MICE Internasional sangat terbuka. Menurut Anang Sutono (STP Bandung), beberapa aspek yang perlu dibangun dalam pengembangan industri MICE di masa pandemi antara lain penyiapan sumber daya manusia, manajemen pengelolaan, kesiapan produk MICE (sarana dan prasarana) dalam bentuk klaster MICE, segmentasi pasar yang tepat, dukungan regulasi, bisnis proses dan kemampuan pengelolaan  big data dan digital maturity.

 

Digitalisasi Industri Parekraf

    Masa pandemi menjadi salah satu faktor untuk mempercepat digitalisasi di bidang pariwisata dan tren pariwisata juga mulai bergeser ke arah digital.  Perkembangan teknologi saat ini menjadikan industri pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai salah satu sektor yang mengalami digitalisasi dengan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Secara tidak langsung membuat masyarakat semakin melek dan ikut beradaptasi dalam perkembangan teknologi. karena gaya hidup masyarakat cenderung cepat dan bersentuhan langsung dengan internet.

 

   Menurut John Bersin, digitalisasi pariwisata bukan hanya terkait teknologi namun juga manusia Digitalisasi pariwisata merupakan trend dan gaya hidup  industri pariwisata sekarang dan di masa depan. Kegiatan perjalanan wisata sebelum pandemi memang telah banyak dibantu oleh teknologi dan digitalisasi semakin dipercepat dengan adanya pandemi Covid-19.  Pemesanan tiket, hotel dan berbagai kebutuhan masyarakat  termasuk   untuk termasuk berwisata dilakukan dengan mudah melalui berbagai aplikasi. Di masa depan kemampuan pengelolaan big data dan pengunaan artificial inteligance menjadi senjata andalan dalam melayani kebutuhan konsumer.

 

Beberapa hal yang membuktikan  digitalisasi membantu industri pariwisata saat ini, yaitu :

-     Membantu  carrying capacity yaitu pembatasan otomatis kunjungan wisatawan ke destinasi wisata oleh pengelola, jika sudah melebihi kapasitas dan memberikan alternatif kepada wisatawan agar tetap dapat berwisata di destinasi wisata tersebut. 

-     Membantu pengembangan wisata di masa depan karena semakin banyak  pelaku wisata memakai sarana digital untuk bisnis wisatanya, maka akan semakin banyak pula database yang terkumpul. Informasi tersebut digunakan untuk membuat evaluasi dan strategi lain untuk pengembangan di masa mendatang.

-     Sarana informasi yang mudah dan cepat berupa artikel, video, foto dan sebagainya yang dapat dilihat oleh dunia. Informasi yang diupload ke media sosial terkait destinasi wisata secara tidak langsung membantu promosi wisata. Platform digital  menjadi sarana keputusan seseorang untuk melakukan kegiatan wisata berdasarkan informasi yang ada. Pemesanan tiket perjalanan, memilih transportasi, menentukan akomodasi, hingga mencari informasi tentang destinasi wisata yang dituju semua bisa dilakukan lewat smartphone dengan berbagai plaftform media sosial yang ada. Untuk urusan pembayaran   sudah ada  sistem pembayaran cashless environment atau pembayaran digital menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).

 

Industri pariwisata sudah memasuki era 4.0 dan sebentar lagi akan melompat ke 5.0 yang ditandai dengan penggunaan Information and Computing Technology ( ICT ) seperti internet of  things, augmented reality, high peformence computing,  cloud computing,  big data, wireless connectivity, emerging technology,  block chain dan artificial inteligance. Promosi dan pemasaran dilakukan  dengan penggunaan teknologi informasi terbaru. Media sosial, informasi di website, google map dan berbagai platform aplikasi  dibangun untuk memudahkan industri pariwisata melayani kebutuhan wisatawan.

 

   Guna menunjang penerapan digitalisasi industri pariwisata dan ekonomi kreatif di  Indonesia, Kemenparekraf berkolaborasi  dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika  untuk mengembangkan infrastruktur telekomunikasi dan informatika, terutama di 5 Destinasi Super Prioritas (DSP) dan desa wisata di Indonesia untuk penyediaan layanan internet dan wifi. Hal ini untuk mencapai  signal coverage yang  lebih memadai di seluruh daerah, hingga pelosok terpencil. Peningkatan layanan internet di destinasi wisata menjadi prioritas penting dan  sekaligus mengoptimalkan perkembangan tren wisata digital nomad di Indonesia.


Referensi                                                                                                     

-       Materi Narasumber pada Webinar Parekraf Outlook  2022 , Universitas Negeri Surakarta (UNSA), 21 Desember 2021.

-       Economic Outlook 2022. Akselerasi Pembangunan Pariwisata 2022. Selasa, 23 November 2021. Kanal you tube: Beritasatu

-       kemenparekraf.go.id

Sumber dokumentasi foto : jowonews.com




Artikel Lainnya


Menengok Pelatihan Barista di Kabupaten Manggarai Timur : Membangun Kapasitas Lokal untuk Meningkatkan Ekonomi Kreatif

POTENSI WISATA BAHARI NTT ( PULAU TIMOR)

MATERIAL BAMBU UNTUK DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT

PENTINGNYA PERIZINAN BANGUNAN GEDUNG DALAM USAHA PARIWISATA

PENTINGNYA PERIZINAN BANGUNAN GEDUNG DALAM USAHA PARIWISATA

TREND KE DEPAN, ARSITEKTUR SEBAGAI DAYA TARIK PARIWISATA BAGAIMANA POTENSI DAN PELUANG NTT?

MENATA KAWASAN LELOGAMA, LEMBANGNYA NTT

WISATA TEMATIK DAN DAYA SAING DTW

RESTORASI TERUMBU KARANG DI KAWASAN EKOWISATA PANTAI OESINA KABUPATEN KUPANG

MOTIF KAIN TENUN ADAT NTT UNTUK FASAD BANGUNAN

PROGRAM CSR PT. PEGADAIAN GALERI 24 DISTRO KUPANG UNTUK PANTAI WISATA LASIANA

MENJAGA KEDAULATAN RUPIAH DI KAWASAN PERBATASAN RI – TIMOR LESTE

Kota Kreatif

Lomba Geowisata Goes to School

URGENSI PELINDUNGAN HUKUM EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL (EBT) BERDASARKAN PERATURAN DAERAH UNTUK AKSELERASI PEMBANGUNAN PARIWISATA DI NUSA TENGGARA TIMUR

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT (2)

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT

Calendar of Events East Nusa Tenggara 2024

Potret Komponen Pariwisata Kota Atambua Untuk Mengembangkan Wisata Kota Perbatasan

Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata

Menulis Buku Bagi ASN Perencana

Talk Show Radio Alor : Kolaboratif untuk Mewujudkan NTT sebagai New Tourism Territory

Sertifikasi Profesi Terapis Spa Bidang Tata Kecantikan di Kota Kupang

Kegiatan Penanaman Mangrove Nasional Secara Serentak oleh Presiden Republik Indonesia

Penyelenggaraan Sertifikasi Profesi Bidang Tour Guide

SALAM GEOWISATA

TREND WISATA PASCA PANDEMI COVID-19, WISATA BALAS DENDAM?

DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT

RAGAM KULINER RAMADHAN DI KOTA KUPANG SEBUAH DAYA TARIK WISATA BUDAYA

PENYUSUNAN RENSTRA DISPAREKRAF NTT 2024-2026

BIMTEK 75 BESAR ADWI 2023

MPD SEBAGAI METODE PERHITUNGAN KUNJUNGAN WISATAWAN

SOSIALISASI MENYUSUN DUPAK

DINAS PAREKRAF NTT IKUT RAKORTEKRENBANG TAHUN 2023

BIMTEK DAN WORKSHOP ONLINE ADWI 2023 ZONA II

PUNGUT SAMPAH, PEDULI SAMPAH

Mau Belajar Sambil Rekreasi Dalam Kota?....Ayo ke Kebun TAFA

Pentingnya Perlindungan Kekayaan Intelektual bagi Berbagai Karya Cipta, Rasa dan Karsa Manusia

Festival Desa Binaan Bank NTT dan Upaya Pengembangan Ekonomi Kreatif dalam Kerangka Pemberdayaan Masyarakat

PENINGKATAN KAPASITAS PENYELENGGARAAN SAKIP DI PROVINSI NTT

PENYERAHAN BUKU KOLASE WISATA

Focus Group Discussion (FGD) Dukungan Data Penyusunan Grand Desain Pariwisata NTT

PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA LELOGAMA KABUPATEN KUPANG

DISPAREKRAF NTT “ IKUT” PESPARANI NASIONAL II DI KUPANG

EXPO NUSANTARA : DARI NTT UNTUK NUSANTARA

MEREKAM KOTA KUPANG DARI DE MUSEUM CAFE JKK

Workshop Peningkatan Kapasitas Pengelolaan SDGs bagi Sekretariat SDGs Provinsi NTT

BKD PROVINSI NTT SERAHKAN HASIL UJI KOMPETENSI

Transformasi Pariwisata Modern Menuju Era Industri 4.0 Melalui Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional

Dinas Parekraf Provinsi NTT Berduka

Asah Kemampuan Promosi Kreatif ASN Melalui Kegiatan Pelatihan Pemasaran Pariwisata Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)

FESTIVAL GOLO KOE : GELIAT BARU PARIWISATA LABUAN BAJO

Eksotisnya Pantai di Ujung Utara Flores

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT Selenggarakan Pelatihan Implementasi Konsep CHSE

Ruang Terbuka Publik dan Penanganannya

Sosialisasi Input Data Innovative Government Award Tahun 2022

JEJAK SUKACITA FESTIVAL MUSIM DINGIN TAHUN 2022 DI SURGA TERSEMBUNYI TIMOR TENGAH SELATAN

WELCOME LABUAN BAJO

Catatan Kecil Kegiatan Workshop Pengembangan Ekonomi Digital dan Produk Kreatif ASN

KOTA ENDE, KOTA LAHIRNYA PANCASILA

AJANG ANUGERAH PESONA INDONESIA (API) 2022

Workshop Penguatan Kapasitas Sekretariat SDGs Daerah Dalam Pengelolaan Pelaksanaan SDGs

KOTA KUPANG DALAM PAMERAN GAMBAR MALOI KUPANG

Kampung Seni Flobamorata Kupang

Lasiana Beach

KAWASAN PARIWISATA ESTATE NTT : Dimana Batas-Batasnya ? Berapa Luasnya?

Standar Operasional Prosedur Disparekraf Prov. NTT

Standar Pelayanan Publik

Maklumat Pelayanan Publik Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT

DESA GOLO LONI MENAWARKAN WISATA ARUNG JERAM DI FLORES

IDENTIFIKASI DAN WORKSHOP PENGEMBANGAN HOMESTAY DI DESA GOLO LONI KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

Wisata Aman Bencana di NTT

Catatan Perjalanan Wisata di Fatumnasi

KEGIATAN MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

KEGIATAN PRA MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

Membangun Kemandirian Lokal Menjadi Arah Pembangunan NTT 2023

Kemenparekraf Gelar Workshop Pengelolaan Event Daerah Demi Wujudkan Event Berkualitas

RUMAH BUMN, RUMAHNYA INDUSTRI KREATIF

RAPAT KOORDINASI MENDUKUNG CAPAIAN TARGET PESERTA DESA WISATA YANG AKAN MENDAFTAR DI ADWI 2022

SOSIALISASI PENGINPUTAN RKPD NTT TAHUN 2023

Buku Database 2021

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ENDE

Karya Arsitektur sebagai Daya Tarik Wisata

Pertemuan dengan Forkasse (Forum Komunikasi antar sanggar Seni Provinsi NTT)

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ALOR

DINAS PAREKRAF NTT BELAJAR APLIKASI BELA

Mengenal Dunia Astronomi Melalui Wisata Ke Observatorium Nasional Timau Kabupaten Kupang

PROTOKOL KESEHATAN PADA DESTINASI WISATA

Semauku Indah

MENDATA POTENSI USAHA EKONOMI KREATIF DI KABUPATEN KUPANG

WISATA KOTA, KOTA WISATA

NTT Hijau dalam Pesona 1000 Bonsai

KICKOFF JABATAN FUNGSIONAL ADYATAMA KEPARIWISATAAN DAN EKONOMI KREATIF

PARIWISATA NTT BUTUH BRANDING, GUYS !

Regional Calender Tourism Events 2022

RAKOR PEMBANGUNAN PARIWISATA RING OF BEAUTY NTT

KENYAMANAN RUANG HOMESTAY

SOSIALISASI DAN SIMULASI PANDUAN SERTIFIKASI CHSE PADA PENYELENGGARAAN MICE

MENATA ARSITEKTUR KOTA LABUAN BAJO

KASUS HIV AIDS DI PROVINSI NTT TETAP MENINGKAT

Konsep Desain Monumen di Kelurahan LLBK Kota Kupang

PEMBANGUNAN DI PROVINSI NTT MEMBUTUHKAN HARMONISASI DAN SINKRONISASI

DESA WISATA, DESA WISATA TEMATIK DAN DESA WISATA HIJAU. Mana yang Cocok Untuk NTT?

Reef Check Indonesia Kembangkan Wisata Spesies dan Industri Penunjangnya di Kabupaten Kupang dan Rote Ndao

Simulasi Bencana di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov. NTT

MENDORONG STANDARISASI PELAKU PARIWISATA

Kolaborasi Kemitraan, Disparekraf NTT Gandeng Pelaku Wisata

Upaya Penerapan ISO 9001 : 2015 di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT

PEMBINAAN STATISTIK SEKTORAL PARIWISATA

Catatan Perjalanan ke Liman

Wisata Langit Gelap “Lelogama”

TALK SHOW ONLINE ANTARA BETA, DIA DAN DESTINASI WISATA NTT: KEMARIN, KINI DAN NANTI

Diseminiasi Anggaran Belanja Dinas Parekraf NTT

Konsultasi Publik Penyusunan Dokumen Antara Rencana Zonasi Kawasan Antar Wilayah Laut Bali dan Sekitarnya

Diskusi Konsep Smart Tourism di Indonesia Timur

Rapat Tim Pengelola Website Dinas Parekraf NTT

Bambu dan Prospek Pengembanganya Bagi Ekowisata NTT

Kunjungan Kerja Gubernur NTT ke Kantor Dinas Parekraf NTT

Kunjungan Bupati Malaka

Lokakarya Konsolidasi Pembentukan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana

Pertemuan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana Provinsi NTT

Literasi Desa Koanara Kabupaten Ende

Literasi Obyek Wisata Desa Praimadita Kabupaten Sumba Timur

Literasi Kabupaten Alor

Literasi Lamalera

Profile Kawasan Pariwisata Estate (PE)

MENDORONG KAMPUNG DENGE SEBAGAI PINTU GERBANG KAWASAN WISATA WAEREBO

EVALUASI DESTINASI WISATA PASCA BENCANA ALAM

Tourism Event 2022

WORKSHOP ARSITEK

DISKUSI PUBLIK PARIWISATA AMAN BENCANA DI PROVINSI NTT

MENEMUKAN POTENSI INDENTITAS FISIK KOTA KUPANG

DAYA TARIK WISATA RUMAH ADAT NTT

Belajar dari Utusan Khusus Presiden Seychelles

Pariwisata Nusa Tenggara Timur, Cerah-Cemerlang

Deseminasi Pengelolaan Website Dinas Parekraf NTT

Menggali Spirit of Place Dalam Desain Kawasan Pariwisata Estate NTT

FGD Review RIPPARNAS 2011- 2025

Penerapan CHSE Usaha Pariwisata di Provinsi NTT

Tata Kelola Persampahan Di Destinasi Wisata Super Premium Labuan Bajo

Identifikasi Awal Potensi Geowisata NTT

Waterfront City Kota Kupang Sebagai Destinasi Wisata Kota

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Panen Perdana Sayur Organik

Kajian Pengembangan KSPN Nemberala-Rote dan KSPN Alor-Kalabahi


MEDIA SOSIAL DAN KONTAK


| Dinas Pariwisata Provinsi NTT
| @thenewtourismterritory
| @PariwisataNTT


Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT
Jl. Frans Seda 2 No.72, Kayu Putih, Oebobo, Kota Kupang, 85228
(0380) 826384
082144082555