Bambu dan Prospek Pengembanganya Bagi Ekowisata NTT
Card image
Diposting oleh - Paul J. Andjelicus, Pada 23 July 2021

Bambu adalah Kehidupan, Bambu  adalah Masa Depan. Demikian inti arahan Gubernur Victor B. Laiskodat ketika meresmikan Kampus Desa Bambu Agroforestry di daerah Turetogo Desa Ratogesa Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada, pada saat kunjungan kerja ke Flores Mei 2021 lalu. Kampus Desa Bambu ini dikembangkan oleh Yayasan Bambu Lestari (YBL) di atas lahan seluas 1 Ha dengan  beberapa fasilitas yang akan dibangun secara bertahap seperti fasilitas pengawetan bambu, Rumah Bambu Lestari, mess  dan aula pertemuan untuk berbagai kegiatan diklat dan pertemuan. Disamping itu juga terdapat kawasan hutan bambu yang dibiarkan terjaga kelestariannya dan  kebun pembibitan yang terdiri dari beberapa jenis bambu dan tanaman sela seperti porang dan tanaman pewarna tradisional.

Menurut YBL, Kampus Desa Bambu ini akan menjadi tempat promosi, kampanye dan penyebarluasan informasi mengenai penggunaan bambu dalam kehidupan masyarakat yang sudah mulai ditinggalkan. Untuk jangka panjang, Kampus Desa Bambu ini akan menjadi tuan rumah serangkaian  lokakarya konstruksi bambu di mana para peserta akan bereksperimen dengan berbagai sistem struktur bambu. Pengetahuan tentang bambu sebagai bahan bangunan, arsitektur tradisional  dan nilai  kearifan lokal yang ada akan menjadi inspriasi bagi para arsitek dan masyarakat dalam membangun bangunan dari bambu.

Adanya Kampus Desa Bambu  dengan alam yang indah ini tentu menambah kawasan wisata di Nusa Tenggara Timur (NTT)  sebagai alternatif daya tarik berwisata mengingat salah satu tren wisata era new normal adalah wisata berbasis alam yang masih asli.  Dan NTT memiliki pesona alam dan budaya yang indah, asli  dan eksotik.  Disamping itu,  kawasan sejenis juga sudah hadir di Kabupaten Sumba Barat Daya yaitu Sekolah Perhotelan Internasional yang dibangun oleh Sumba Hospitality Foundation tahun 2015 lalu. Sekolah ini menyiapkan pengetahuan di bidang perhotelan selama satu tahun atau setara diploma 1  untuk jurusan restoran dan bar, tata boga, resepsionis dan tata graha (house keeping). Fasilitas yang  dibangun mengunakan bambu sebagai bahan utama seperti bangunan kelas, penginapan dan fasilitas lainnya.

NTT memiliki potensi bambu yang cukup  menjanjikan.  Tercatat sedikitnya ada 10 jenis bambu di NTT yang tersebar di hampir seluruh wilayah dengan konsentrasi terbesar di Flores dan Sumba. Sementara di Timor relatif lebih sedikit. Secara nasional terdapat 161 jenis bambu dan luasan tanaman bambu diperkirakan mencapai 20 juta Ha namun terus berkurang dalam 10 tahun terakhir. Khususnya di Jawa, tanaman bambu makin berkurang karena terdesak penggunaan lahan untuk permukiman. Sementara untuk NTT, belum ada data yang pasti terkait luasan kawasan hutan bambu, namun dari data YBL terdapat area bambu seluas 80.000 Ha yang tersebar di Kabupaten Mabar, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada dan Nagekeo. Permasalahan yang ada di NTT adalah bambu hanya digunakan  sebagai bahan bangunan dan pagar rumah dan belum  memberikan  nilai tambah bagi masyarakat.

Bambu merupakan  tanaman yang banyak dimanfaakan sejak dulu untuk berbagai keperluan dalam kehidupan manusia mulai dari sebagai bahan bakar, pagar, perlengkapan rumah tangga, bahan bangunan  sampai rumah  bahkan bangunan gedung dengan skala yang besar seperti aula, ruang pertemuan. Khusus bahan bangunan, bambu adalah material ringan yang berongga dan sepintas terlihat lemah. Namun adanya rongga menjadi  ciri khas kekuatan bambu dan berfungsi sebagai bracer yang memperkuat bambu dan membuat elemen yang biasa digunakan sebagai struktur menjadi lebih ringan dan tidak kaku. Bambu memiliki karakter elastis dan tidak mudah pecah sehingga struktur bambu menjadi lebih kuat sebagai bahan bangunan. Tentu dengan beberapa syarat seperti bambu yang sudah tua memiliki usia 7 tahun keatas dan telah  melalui proses pengawetan.

Bambu banyak manfaatnya. Dari segi ekologis, bambu dipakai untuk memulihkan lahan kritis, perlindungan daerah aliran sungai (DAS) dan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta pencegahan bencana alam. Bambu mampu menyimpan air dengan baik karena 1 rumpun bambu dapat menyimpan 5000 liter air pada musim hujan untuk dialirkan ke tanah pada musim kemarau. Selain itu bambu  dapat menyerap karbon CO2 karena 1 ha bambu mempu menyerap dan menahan 50 ton CO2 per tahun. Sementara dari segi ekonomis, bambu dapat dibududayakan secara lestari dan berkesibambungan yang dapat dipanen secara regular tanpa mengurangi fungsi sebagai tutupan hutan dan konservasi air. Kemampuan menyimpan air dapat mendukung budidaya tanaman produktif lainnya yang dikembangkan masyarakat. . Dan tentu saja bambu dapat diolah menjadi beranekaragam produk seperti makanan, tekstil, furnitur dan bahan bangunan. Produk olahan bambu  di pasar dunia   diperkirakan telah mencapai lebih dari 70 Milyar Dollar.

Melihat prospek produk olahan bambu di dunia dan potensi  bambu yang dimilliki NTT, maka perlu adanya pengembangan lebih lanjut dari tanaman bambu yang sudah ada sebagai langkah upaya memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menetapkan Kabupaten Ngada sebagai pusat unggulan untuk program 1000 Desa Bambu. Desa Bambu merupakan suatu platform dalam mengembangkan dan memperkuat pemanfaatan bambu melalui industri bambu berbasis masyarakat dan dibangun dengan mekanisme people public private partnership (4P). Desa Bambu  akan bergerak dari sektor hulu sampai hilir, mulai dari pengeleloaan hutan bambu yang lestari dan pemanfaatan bambu sebagai bahan baku industri.

Untuk mendukung program KLHK ini, Pemerintah Provinsi NTT pada tahun anggaran 2021 ini menyiapkan anggaran sekitar 8 Milyar melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa untuk menyiapkan bibit bambu di 7 kabupaten dan tahun 2022 nanti akan diperluas di 4 kabupaten. Hal ini dilakukan untuk memastikan keberlangsungan bambu dalam rangka pengembangan industri bambu ke depan. Khusus di kabupaten Ngada sudah ada 10 desa bambu yang dijadikan pusat unggulan dan percontohan untuk daerah lain. 10 desa tersebut adalah Desa Ratogesa, Mataloko, Dokka, Dadawea, Were 1, dan Were 2, Were 4, Waieia, Radabata dan Wogo yang terdapat di Kecamatan Golewa.

Melihat potensi bambu yang ada di Kecamatan Golewa dan ditetapkannya Kabupaten Ngada sebagai pusat unggulan Desa Bambu, maka kawasan bambu di Kecamatan Golewa  dapat diarahkan menjadi kawasan  ekowisata bambu di Ngada bahkan NTT. Disamping itu juga beberapa kawasan bambu  lainya di Flores dan juga Sumba seperti Pola, Tana Daru, Wanggameti dan Mangili Wati. Wisatawan dapat diarahkan untuk menikmati pemandangan alam hutan bambu, sensasi tinggal di rumah / pondok bambu, membeli berbagai produk olahan bambu baik sebagai souvenir maupun makanan dan juga menyaksikan proses pembuatan berbagai produk olahan bambu tersebut. Bahkan dapat pula terlibat dan berinteraksi langsung dalam proses produksi tersebut bersama masyarakat. Dengan demikian upaya memberikan nilai tambah bambu bagi masyarakat setempat dapat terwujud melalui produk olahan bambu dan konservasi lingkungan.

 

Paul J. Andjelicus

Perencana Muda Dinas Parekraf NTT

Anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) NTT

 

Dokumentasi Foto: Rancangan Kampus Desa Bambu Agroforestry Turetogo di Kabupaten Ngada (Yayasan Bambu Lestari,2021)


Referensi:

https://www.arsitag.com/article/bambu-sebagai-bahan-bangunan

https://rri.co.id/kupang/daerah/1058797/ntt-miliki-kampus-desa-bambu-agroforestry

https://kupang.antaranews.com/berita/7662/ngada-jadi-pusat-unggulan-program-1000-desa-bambu

Pengembangan Desain Bambu Agroforestry di NTT. Yayasan Bambu Lestari.2021



Artikel Lainnya


MATERIAL BAMBU UNTUK DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT

PENTINGNYA PERIZINAN BANGUNAN GEDUNG DALAM USAHA PARIWISATA

PENTINGNYA PERIZINAN BANGUNAN GEDUNG DALAM USAHA PARIWISATA

TREND KE DEPAN, ARSITEKTUR SEBAGAI DAYA TARIK PARIWISATA BAGAIMANA POTENSI DAN PELUANG NTT?

MENATA KAWASAN LELOGAMA, LEMBANGNYA NTT

WISATA TEMATIK DAN DAYA SAING DTW

RESTORASI TERUMBU KARANG DI KAWASAN EKOWISATA PANTAI OESINA KABUPATEN KUPANG

MOTIF KAIN TENUN ADAT NTT UNTUK FASAD BANGUNAN

PROGRAM CSR PT. PEGADAIAN GALERI 24 DISTRO KUPANG UNTUK PANTAI WISATA LASIANA

MENJAGA KEDAULATAN RUPIAH DI KAWASAN PERBATASAN RI – TIMOR LESTE

Kota Kreatif

Lomba Geowisata Goes to School

URGENSI PELINDUNGAN HUKUM EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL (EBT) BERDASARKAN PERATURAN DAERAH UNTUK AKSELERASI PEMBANGUNAN PARIWISATA DI NUSA TENGGARA TIMUR

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT (2)

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT

Calendar of Events East Nusa Tenggara 2024

Potret Komponen Pariwisata Kota Atambua Untuk Mengembangkan Wisata Kota Perbatasan

Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata

Menulis Buku Bagi ASN Perencana

Talk Show Radio Alor : Kolaboratif untuk Mewujudkan NTT sebagai New Tourism Territory

Sertifikasi Profesi Terapis Spa Bidang Tata Kecantikan di Kota Kupang

Kegiatan Penanaman Mangrove Nasional Secara Serentak oleh Presiden Republik Indonesia

Penyelenggaraan Sertifikasi Profesi Bidang Tour Guide

SALAM GEOWISATA

TREND WISATA PASCA PANDEMI COVID-19, WISATA BALAS DENDAM?

DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT

RAGAM KULINER RAMADHAN DI KOTA KUPANG SEBUAH DAYA TARIK WISATA BUDAYA

PENYUSUNAN RENSTRA DISPAREKRAF NTT 2024-2026

BIMTEK 75 BESAR ADWI 2023

MPD SEBAGAI METODE PERHITUNGAN KUNJUNGAN WISATAWAN

SOSIALISASI MENYUSUN DUPAK

DINAS PAREKRAF NTT IKUT RAKORTEKRENBANG TAHUN 2023

BIMTEK DAN WORKSHOP ONLINE ADWI 2023 ZONA II

PUNGUT SAMPAH, PEDULI SAMPAH

Mau Belajar Sambil Rekreasi Dalam Kota?....Ayo ke Kebun TAFA

Pentingnya Perlindungan Kekayaan Intelektual bagi Berbagai Karya Cipta, Rasa dan Karsa Manusia

Festival Desa Binaan Bank NTT dan Upaya Pengembangan Ekonomi Kreatif dalam Kerangka Pemberdayaan Masyarakat

PENINGKATAN KAPASITAS PENYELENGGARAAN SAKIP DI PROVINSI NTT

PENYERAHAN BUKU KOLASE WISATA

Focus Group Discussion (FGD) Dukungan Data Penyusunan Grand Desain Pariwisata NTT

PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA LELOGAMA KABUPATEN KUPANG

DISPAREKRAF NTT “ IKUT” PESPARANI NASIONAL II DI KUPANG

EXPO NUSANTARA : DARI NTT UNTUK NUSANTARA

MEREKAM KOTA KUPANG DARI DE MUSEUM CAFE JKK

Workshop Peningkatan Kapasitas Pengelolaan SDGs bagi Sekretariat SDGs Provinsi NTT

BKD PROVINSI NTT SERAHKAN HASIL UJI KOMPETENSI

Transformasi Pariwisata Modern Menuju Era Industri 4.0 Melalui Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional

Dinas Parekraf Provinsi NTT Berduka

Asah Kemampuan Promosi Kreatif ASN Melalui Kegiatan Pelatihan Pemasaran Pariwisata Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)

FESTIVAL GOLO KOE : GELIAT BARU PARIWISATA LABUAN BAJO

Eksotisnya Pantai di Ujung Utara Flores

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT Selenggarakan Pelatihan Implementasi Konsep CHSE

Ruang Terbuka Publik dan Penanganannya

Sosialisasi Input Data Innovative Government Award Tahun 2022

JEJAK SUKACITA FESTIVAL MUSIM DINGIN TAHUN 2022 DI SURGA TERSEMBUNYI TIMOR TENGAH SELATAN

WELCOME LABUAN BAJO

Catatan Kecil Kegiatan Workshop Pengembangan Ekonomi Digital dan Produk Kreatif ASN

KOTA ENDE, KOTA LAHIRNYA PANCASILA

AJANG ANUGERAH PESONA INDONESIA (API) 2022

Workshop Penguatan Kapasitas Sekretariat SDGs Daerah Dalam Pengelolaan Pelaksanaan SDGs

KOTA KUPANG DALAM PAMERAN GAMBAR MALOI KUPANG

Kampung Seni Flobamorata Kupang

Lasiana Beach

KAWASAN PARIWISATA ESTATE NTT : Dimana Batas-Batasnya ? Berapa Luasnya?

Standar Operasional Prosedur Disparekraf Prov. NTT

Standar Pelayanan Publik

Maklumat Pelayanan Publik Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT

DESA GOLO LONI MENAWARKAN WISATA ARUNG JERAM DI FLORES

IDENTIFIKASI DAN WORKSHOP PENGEMBANGAN HOMESTAY DI DESA GOLO LONI KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

Wisata Aman Bencana di NTT

Catatan Perjalanan Wisata di Fatumnasi

KEGIATAN MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

KEGIATAN PRA MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

Membangun Kemandirian Lokal Menjadi Arah Pembangunan NTT 2023

Kemenparekraf Gelar Workshop Pengelolaan Event Daerah Demi Wujudkan Event Berkualitas

RUMAH BUMN, RUMAHNYA INDUSTRI KREATIF

RAPAT KOORDINASI MENDUKUNG CAPAIAN TARGET PESERTA DESA WISATA YANG AKAN MENDAFTAR DI ADWI 2022

SOSIALISASI PENGINPUTAN RKPD NTT TAHUN 2023

Buku Database 2021

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ENDE

Karya Arsitektur sebagai Daya Tarik Wisata

Pertemuan dengan Forkasse (Forum Komunikasi antar sanggar Seni Provinsi NTT)

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ALOR

DINAS PAREKRAF NTT BELAJAR APLIKASI BELA

Outlook Parekraf 2022

Mengenal Dunia Astronomi Melalui Wisata Ke Observatorium Nasional Timau Kabupaten Kupang

PROTOKOL KESEHATAN PADA DESTINASI WISATA

Semauku Indah

MENDATA POTENSI USAHA EKONOMI KREATIF DI KABUPATEN KUPANG

WISATA KOTA, KOTA WISATA

NTT Hijau dalam Pesona 1000 Bonsai

KICKOFF JABATAN FUNGSIONAL ADYATAMA KEPARIWISATAAN DAN EKONOMI KREATIF

PARIWISATA NTT BUTUH BRANDING, GUYS !

Regional Calender Tourism Events 2022

RAKOR PEMBANGUNAN PARIWISATA RING OF BEAUTY NTT

KENYAMANAN RUANG HOMESTAY

SOSIALISASI DAN SIMULASI PANDUAN SERTIFIKASI CHSE PADA PENYELENGGARAAN MICE

MENATA ARSITEKTUR KOTA LABUAN BAJO

KASUS HIV AIDS DI PROVINSI NTT TETAP MENINGKAT

Konsep Desain Monumen di Kelurahan LLBK Kota Kupang

PEMBANGUNAN DI PROVINSI NTT MEMBUTUHKAN HARMONISASI DAN SINKRONISASI

DESA WISATA, DESA WISATA TEMATIK DAN DESA WISATA HIJAU. Mana yang Cocok Untuk NTT?

Reef Check Indonesia Kembangkan Wisata Spesies dan Industri Penunjangnya di Kabupaten Kupang dan Rote Ndao

Simulasi Bencana di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov. NTT

MENDORONG STANDARISASI PELAKU PARIWISATA

Kolaborasi Kemitraan, Disparekraf NTT Gandeng Pelaku Wisata

Upaya Penerapan ISO 9001 : 2015 di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT

PEMBINAAN STATISTIK SEKTORAL PARIWISATA

Catatan Perjalanan ke Liman

Wisata Langit Gelap “Lelogama”

TALK SHOW ONLINE ANTARA BETA, DIA DAN DESTINASI WISATA NTT: KEMARIN, KINI DAN NANTI

Diseminiasi Anggaran Belanja Dinas Parekraf NTT

Konsultasi Publik Penyusunan Dokumen Antara Rencana Zonasi Kawasan Antar Wilayah Laut Bali dan Sekitarnya

Diskusi Konsep Smart Tourism di Indonesia Timur

Rapat Tim Pengelola Website Dinas Parekraf NTT

Kunjungan Kerja Gubernur NTT ke Kantor Dinas Parekraf NTT

Kunjungan Bupati Malaka

Lokakarya Konsolidasi Pembentukan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana

Pertemuan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana Provinsi NTT

Literasi Desa Koanara Kabupaten Ende

Literasi Obyek Wisata Desa Praimadita Kabupaten Sumba Timur

Literasi Kabupaten Alor

Literasi Lamalera

Profile Kawasan Pariwisata Estate (PE)

MENDORONG KAMPUNG DENGE SEBAGAI PINTU GERBANG KAWASAN WISATA WAEREBO

EVALUASI DESTINASI WISATA PASCA BENCANA ALAM

Tourism Event 2022

WORKSHOP ARSITEK

DISKUSI PUBLIK PARIWISATA AMAN BENCANA DI PROVINSI NTT

MENEMUKAN POTENSI INDENTITAS FISIK KOTA KUPANG

DAYA TARIK WISATA RUMAH ADAT NTT

Belajar dari Utusan Khusus Presiden Seychelles

Pariwisata Nusa Tenggara Timur, Cerah-Cemerlang

Deseminasi Pengelolaan Website Dinas Parekraf NTT

Menggali Spirit of Place Dalam Desain Kawasan Pariwisata Estate NTT

FGD Review RIPPARNAS 2011- 2025

Penerapan CHSE Usaha Pariwisata di Provinsi NTT

Tata Kelola Persampahan Di Destinasi Wisata Super Premium Labuan Bajo

Identifikasi Awal Potensi Geowisata NTT

Waterfront City Kota Kupang Sebagai Destinasi Wisata Kota

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Panen Perdana Sayur Organik

Kajian Pengembangan KSPN Nemberala-Rote dan KSPN Alor-Kalabahi


MEDIA SOSIAL DAN KONTAK


| Dinas Pariwisata Provinsi NTT
| @thenewtourismterritory
| @PariwisataNTT


Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT
Jl. Frans Seda 2 No.72, Kayu Putih, Oebobo, Kota Kupang, 85228
(0380) 826384
082144082555