DAYA TARIK WISATA RUMAH ADAT NTT
Card image
Diposting oleh - Paul J. Andjelicus, Pada 15 December 2020

DAYA TARIK WISATA RUMAH ADAT NTT

Paul J. Andjelicus

Perencana Muda Dinas Parekraf  Provinsi NTT

Anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) NTT

 

Pembangunan pariwisata menjadi salah satu prioritas  pembangunan NTT dibawah kepemimpinan Viktor Laiskodat dan Josef Nae Soi bahkan menjadi prime mover atau pengerak utama bagi pembangunan sektor lainnya. Salah satu program pariwisata di NTT adalah pembangunan kawasan wisata destinasi baru di NTT atau Pariwisata Estate dan untuk tahun 2019 terdapat 7 kawasan unggulan yang akan dibangun yaitu Pantai Liman Semau di Kabupaten Kupang, Perairan Mulut Seribu di Rote Ndao, Wisata Alam Fatumnasi di TTS, Kampung Adat Praimadita di Sumba Timur, Pantai Moru di Alor, Lamalera di Lembata dan Danua Kelimutu di Ende.

 

Pembangunan   pariwisata di NTT dilakukan bukan untuk para wisatawan saja tetapi juga  untuk menjaga kelestarian dan keunikan, kekayaan alam dan budaya setempat yang dapat berkontribusi positif bagi ekonomi masyarakat. Terdapat   4 aspek pembangunan pariwisata yang merupakan komponen wisata yang saling mendukung   (Cooper, 1993) yaitu Attraction (Daya Tarik), Accesability (Aksesibilitas), Amenity (Fasilitas) dan Ancillary (Penunjang). Daya tarik wisata (Attraction) merupakan komponen vital karena suatu tempat wisata harus memiliki keunikan yang mampu menarik minat wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Daya tarik wisata  terdiri dari daya tarik wisata alam, budaya dan buatan dapat berbentuk seperti keindahan lokasi alam, pertunjukkan kesenian, rekreasi, paket budaya yang dilestarikan dan rumah adat.

 

Pesona Rumah Adat

Salah satu daya tarik yang dimiliki NTT selain keindahan alam adalah  rumah adat atau rumah tradisional.  Rumah adat pada masing-masing daerah memiliki bentuk arsitektur yang khas. Secara garis besar terdapat 10  ragam arsitektur tradisional di NTT  yaitu: Arsitektur Sumba, Sabu, Rote, Atoni, Wekali, Alor, Sumba, Flores Timur, Lio, Ngada dan Arsitektur Manggarai (Kelompok  Arsitektur Vernakular  Unwira,1992). Ragam arsitektur ini merupakan aset yang kaya akan wujud dan ciri khasnya, karena setiap rumah adat mencerminkan dan mengabadikan sejumlah nilai-nilai, norma–norma adat dan pandangan hidup yang alami. Rumah–rumah adat tersebut kaya akan makna simbolik yang bernuansa sosial, mistis, relegius, pemersatu suku,  tanggap terhadap iklim, bencana gempa dan lingkungan, serta tanggap terhadap budaya setempat. Hal ini yang perlu dilestarikan dan menjadi potensi yang tak ternilai sehingga dapat menjadi daya tarik wisata.

 

Wisatawan dapat mengenal dan mempelajari pesona  rumah adat secara keseluruhan mulai dari pola permukiman / perkampungan rumah adat, bentuk bangunan rumah, filosofi rumah adat itu sendiri, proses pembangunan sampai artefak dan ragam/ornamen hias yang ada. Secara umum pola permukiman rumah adat mencirikan konsep hubungan mikrokosmos dan makrokosmos, konsep mengelompok (kluster) dan pemanfaatan potensi topografi untuk penentuan hirarki yang jelas. Contohnya pola permukiman rumah adat suku Matabesi di Belu yang  memiliki tipe kluster, dengan Rumah Besar  (Uma Bot) sebagai pusat perkampungan dan terletak  pada daerah yang lebih tinggi. Kampung tradisional Takpala di Alor, terdapat beberapa komponen bangunan  penting membentuk pola kluster. Pada daerah Flores dapat dijumpai  pola permukiman yang hampir sama  seperti pada  perkampungan adat Wajo di Kabupaten Nagekeo. Pola kluster juga diterapkan untuk  tapak perkampungan tradisional di Sabu, dimana bangunan - bangunan berpusat pada satu titik yang berada pada ruang terbuka. Konsep berbeda terdapat pada pola perkampungan Sa’o Ria di  Ende yang berbentuk linear. Hal ini dapat dilihat dari perletakan massa bangunan yang mengikuti alur jalan dan kontur tanah. Begitu juga dengan pola permukiman rumah tradisional Sumba tidak memiliki pola tertentu, tapi selalu memperhatikan topografi setempat dan  menghindari letak rumah menghadap ke Timur dan Barat. Menurut kepercayaan jika rumah menghadap ke Barat atau Timur maka penghuninya akan mengalami  malapetaka.

 

Dari aspek bangunan, secara umum rumah adat / rumah tradisional di NTT berbentuk panggung dan terdiri dari 3 bagian yaitu kaki (pondasi), badan (dinding) dan kepala (atap) yang mendominasi bangunan. Dominasi bentuk atap bangunan merupakan salah satu daya tarik utama rumah adat. Penggunaan material  lokal seperti kayu, bambu untuk kontruksi dinding dan atap dari bahan  daun lontar atau alang-alang, terbukti tanggap dengan kondisi alam khususnya gempa. Salah satu rumah adat yang paling terkenal adalah rumah adat Sumba karena bentuk arsitektur atapnya sering dipakai dalam berbagai desain arsitektur perkantoran modern di NTT. Rumah adat di Moni Ende  yang utama adalah Sa’o Ria (rumah besar), berbentuk rumah panggung tanpa dilengkapi jendela dengan konstruksi atap menjulang dari lantai sampai ke bagian atas.  Ada juga rumah adat yang tidak berpanggung seperti  rumah  suku Dawan yaitu Rumah Raja (Sonaf) dan Rumah Rakyat (Ume Khebu).  Denah Sonaf berbentuk agak lonjong/elips. Bentuk tersebut melambangkan alam semesta dan sebagai pemersatu suku-suku. Rumah adat suku Boti di TTS berbentuk bundar dengan lantai tanah dan atapnya berbentuk kerucut sampai menyentuh tanah  yang disebut Ume Kbubu atau Rumah Bulat.  

 

Pelestarian Rumah Adat

Tanggal 9 Juni 2019 lalu, Persatuan Arsitek Internasional (The International Union of Architects) menyelenggarakan  “Baku Forum on  Mass Tourism in Historic Cities di Baku Azerbaijan yang pada hakekatnya  menyerukan kepada semua pihak yang terlibat dalam pembangunan pariwisata dunia untuk mendukung pengembangan desain arsitektur dan prinsip-prinsip perencanaan yang berkualitas  untuk meningkatkan dan menjaga warisan dunia termasuk rumah adat.  Sejalan dengan semangat Forum Baku, maka kita  prihatin dengan kasus-kasus terbakarnya rumah adat di NTT seperti yang terjadi di Desa Tarung Kabupaten Sumba Barat dan Desa Watumanu Kabupaten Ngada. Hal ini dapat menghilangkan warisan budaya dan salah satu potensi daya tarik wisata, sehingga upaya perbaikan  menjadi penting. Berbagai upaya untuk tetap melestarikan rumah adat di NTT terus dilakukan oleh berbagai pihak. Salah satu contoh adalah keberhasilan perbaikan Rumah Adat di Desa Wae Rebo Manggarai yang dilakukan arsitek Yori Antar dan kawan-kawan pada tahun 2008 sehingga meraih penghargaan dari UNESCO Asia Pasific Award sebagai Cultural Heritage Conservation Tahun 2012 silam.  Perbaikan  Rumah Adat di Desa Tarung sudah mulai dilakukan dan pada bulan Agustus 2019  diadakan Workshop Internasional dengan tema “Wooden Architecture”  yang dilaksanakan oleh  Sekolah Tukang Nusantara dengan dukungan   perguruan tinggi (ITB dan UII) dan Asosiasi Perguruan Tinggi  Arsitektur Indonesia (APTARI). Workshop  langsung dilakukan di Kampung Tarung (on site) dengan materi konstruksi bangunan tradisional Sumba, ilmu tentang material kayu dalam pembangunan dan berbagai kerarifan lokal yang ada.

 

Program Perbaikan Rumah Adat di 21 kabupaten pada tahun 2019 yang dilakukan Pemerintah Provinsi NTT patut diapresiasi sebagai salah satu upaya melestarikan  potensi keunikan Rumah Adat di NTT. Bersama para pelaku terkait pariwisata, upaya pelestarian rumah adat  dan arsitektur tradisional yang dimiliki NTT dapat bekerjasama dengan kalangan akademisi dan Ikatan Arsitek Indonesia Daerah NTT untuk memastikan Rumah Adat di NTT sebagai salah satu daya tarik unggulan bagi pariwisata NTT dan berkontribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.


(artikel ini sudah pernah dimuat pada HU Timor Express Kupang  05 Agustus 2019)

Dokumentasi: Rumah Adat Sumba - sumber : istimewa



Artikel Lainnya


MENATA KAWASAN LELOGAMA, LEMBANGNYA NTT

WISATA TEMATIK DAN DAYA SAING DTW

RESTORASI TERUMBU KARANG DI KAWASAN EKOWISATA PANTAI OESINA KABUPATEN KUPANG

MOTIF KAIN TENUN ADAT NTT UNTUK FASAD BANGUNAN

PROGRAM CSR PT. PEGADAIAN GALERI 24 DISTRO KUPANG UNTUK PANTAI WISATA LASIANA

MENJAGA KEDAULATAN RUPIAH DI KAWASAN PERBATASAN RI – TIMOR LESTE

Kota Kreatif

Lomba Geowisata Goes to School

URGENSI PELINDUNGAN HUKUM EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL (EBT) BERDASARKAN PERATURAN DAERAH UNTUK AKSELERASI PEMBANGUNAN PARIWISATA DI NUSA TENGGARA TIMUR

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT (2)

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT

Calendar of Events East Nusa Tenggara 2024

Potret Komponen Pariwisata Kota Atambua Untuk Mengembangkan Wisata Kota Perbatasan

Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata

Menulis Buku Bagi ASN Perencana

Talk Show Radio Alor : Kolaboratif untuk Mewujudkan NTT sebagai New Tourism Territory

Sertifikasi Profesi Terapis Spa Bidang Tata Kecantikan di Kota Kupang

Kegiatan Penanaman Mangrove Nasional Secara Serentak oleh Presiden Republik Indonesia

Penyelenggaraan Sertifikasi Profesi Bidang Tour Guide

SALAM GEOWISATA

TREND WISATA PASCA PANDEMI COVID-19, WISATA BALAS DENDAM?

DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT

RAGAM KULINER RAMADHAN DI KOTA KUPANG SEBUAH DAYA TARIK WISATA BUDAYA

PENYUSUNAN RENSTRA DISPAREKRAF NTT 2024-2026

BIMTEK 75 BESAR ADWI 2023

MPD SEBAGAI METODE PERHITUNGAN KUNJUNGAN WISATAWAN

SOSIALISASI MENYUSUN DUPAK

DINAS PAREKRAF NTT IKUT RAKORTEKRENBANG TAHUN 2023

BIMTEK DAN WORKSHOP ONLINE ADWI 2023 ZONA II

PUNGUT SAMPAH, PEDULI SAMPAH

Mau Belajar Sambil Rekreasi Dalam Kota?....Ayo ke Kebun TAFA

Pentingnya Perlindungan Kekayaan Intelektual bagi Berbagai Karya Cipta, Rasa dan Karsa Manusia

Festival Desa Binaan Bank NTT dan Upaya Pengembangan Ekonomi Kreatif dalam Kerangka Pemberdayaan Masyarakat

PENINGKATAN KAPASITAS PENYELENGGARAAN SAKIP DI PROVINSI NTT

PENYERAHAN BUKU KOLASE WISATA

Focus Group Discussion (FGD) Dukungan Data Penyusunan Grand Desain Pariwisata NTT

PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA LELOGAMA KABUPATEN KUPANG

DISPAREKRAF NTT “ IKUT” PESPARANI NASIONAL II DI KUPANG

EXPO NUSANTARA : DARI NTT UNTUK NUSANTARA

MEREKAM KOTA KUPANG DARI DE MUSEUM CAFE JKK

Workshop Peningkatan Kapasitas Pengelolaan SDGs bagi Sekretariat SDGs Provinsi NTT

BKD PROVINSI NTT SERAHKAN HASIL UJI KOMPETENSI

Transformasi Pariwisata Modern Menuju Era Industri 4.0 Melalui Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional

Dinas Parekraf Provinsi NTT Berduka

Asah Kemampuan Promosi Kreatif ASN Melalui Kegiatan Pelatihan Pemasaran Pariwisata Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)

FESTIVAL GOLO KOE : GELIAT BARU PARIWISATA LABUAN BAJO

Eksotisnya Pantai di Ujung Utara Flores

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT Selenggarakan Pelatihan Implementasi Konsep CHSE

Ruang Terbuka Publik dan Penanganannya

Sosialisasi Input Data Innovative Government Award Tahun 2022

JEJAK SUKACITA FESTIVAL MUSIM DINGIN TAHUN 2022 DI SURGA TERSEMBUNYI TIMOR TENGAH SELATAN

WELCOME LABUAN BAJO

Catatan Kecil Kegiatan Workshop Pengembangan Ekonomi Digital dan Produk Kreatif ASN

KOTA ENDE, KOTA LAHIRNYA PANCASILA

AJANG ANUGERAH PESONA INDONESIA (API) 2022

Workshop Penguatan Kapasitas Sekretariat SDGs Daerah Dalam Pengelolaan Pelaksanaan SDGs

KOTA KUPANG DALAM PAMERAN GAMBAR MALOI KUPANG

Kampung Seni Flobamorata Kupang

Lasiana Beach

KAWASAN PARIWISATA ESTATE NTT : Dimana Batas-Batasnya ? Berapa Luasnya?

Standar Operasional Prosedur Disparekraf Prov. NTT

Standar Pelayanan Publik

Maklumat Pelayanan Publik Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT

DESA GOLO LONI MENAWARKAN WISATA ARUNG JERAM DI FLORES

IDENTIFIKASI DAN WORKSHOP PENGEMBANGAN HOMESTAY DI DESA GOLO LONI KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

Wisata Aman Bencana di NTT

Catatan Perjalanan Wisata di Fatumnasi

KEGIATAN MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

KEGIATAN PRA MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

Membangun Kemandirian Lokal Menjadi Arah Pembangunan NTT 2023

Kemenparekraf Gelar Workshop Pengelolaan Event Daerah Demi Wujudkan Event Berkualitas

RUMAH BUMN, RUMAHNYA INDUSTRI KREATIF

RAPAT KOORDINASI MENDUKUNG CAPAIAN TARGET PESERTA DESA WISATA YANG AKAN MENDAFTAR DI ADWI 2022

SOSIALISASI PENGINPUTAN RKPD NTT TAHUN 2023

Buku Database 2021

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ENDE

Karya Arsitektur sebagai Daya Tarik Wisata

Pertemuan dengan Forkasse (Forum Komunikasi antar sanggar Seni Provinsi NTT)

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ALOR

DINAS PAREKRAF NTT BELAJAR APLIKASI BELA

Outlook Parekraf 2022

Mengenal Dunia Astronomi Melalui Wisata Ke Observatorium Nasional Timau Kabupaten Kupang

PROTOKOL KESEHATAN PADA DESTINASI WISATA

Semauku Indah

MENDATA POTENSI USAHA EKONOMI KREATIF DI KABUPATEN KUPANG

WISATA KOTA, KOTA WISATA

NTT Hijau dalam Pesona 1000 Bonsai

KICKOFF JABATAN FUNGSIONAL ADYATAMA KEPARIWISATAAN DAN EKONOMI KREATIF

PARIWISATA NTT BUTUH BRANDING, GUYS !

Regional Calender Tourism Events 2022

RAKOR PEMBANGUNAN PARIWISATA RING OF BEAUTY NTT

KENYAMANAN RUANG HOMESTAY

SOSIALISASI DAN SIMULASI PANDUAN SERTIFIKASI CHSE PADA PENYELENGGARAAN MICE

MENATA ARSITEKTUR KOTA LABUAN BAJO

KASUS HIV AIDS DI PROVINSI NTT TETAP MENINGKAT

Konsep Desain Monumen di Kelurahan LLBK Kota Kupang

PEMBANGUNAN DI PROVINSI NTT MEMBUTUHKAN HARMONISASI DAN SINKRONISASI

DESA WISATA, DESA WISATA TEMATIK DAN DESA WISATA HIJAU. Mana yang Cocok Untuk NTT?

Reef Check Indonesia Kembangkan Wisata Spesies dan Industri Penunjangnya di Kabupaten Kupang dan Rote Ndao

Simulasi Bencana di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov. NTT

MENDORONG STANDARISASI PELAKU PARIWISATA

Kolaborasi Kemitraan, Disparekraf NTT Gandeng Pelaku Wisata

Upaya Penerapan ISO 9001 : 2015 di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT

PEMBINAAN STATISTIK SEKTORAL PARIWISATA

Catatan Perjalanan ke Liman

Wisata Langit Gelap “Lelogama”

TALK SHOW ONLINE ANTARA BETA, DIA DAN DESTINASI WISATA NTT: KEMARIN, KINI DAN NANTI

Diseminiasi Anggaran Belanja Dinas Parekraf NTT

Konsultasi Publik Penyusunan Dokumen Antara Rencana Zonasi Kawasan Antar Wilayah Laut Bali dan Sekitarnya

Diskusi Konsep Smart Tourism di Indonesia Timur

Rapat Tim Pengelola Website Dinas Parekraf NTT

Bambu dan Prospek Pengembanganya Bagi Ekowisata NTT

Kunjungan Kerja Gubernur NTT ke Kantor Dinas Parekraf NTT

Kunjungan Bupati Malaka

Lokakarya Konsolidasi Pembentukan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana

Pertemuan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana Provinsi NTT

Literasi Desa Koanara Kabupaten Ende

Literasi Obyek Wisata Desa Praimadita Kabupaten Sumba Timur

Literasi Kabupaten Alor

Literasi Lamalera

Profile Kawasan Pariwisata Estate (PE)

MENDORONG KAMPUNG DENGE SEBAGAI PINTU GERBANG KAWASAN WISATA WAEREBO

EVALUASI DESTINASI WISATA PASCA BENCANA ALAM

Tourism Event 2022

WORKSHOP ARSITEK

DISKUSI PUBLIK PARIWISATA AMAN BENCANA DI PROVINSI NTT

MENEMUKAN POTENSI INDENTITAS FISIK KOTA KUPANG

Belajar dari Utusan Khusus Presiden Seychelles

Pariwisata Nusa Tenggara Timur, Cerah-Cemerlang

Deseminasi Pengelolaan Website Dinas Parekraf NTT

Menggali Spirit of Place Dalam Desain Kawasan Pariwisata Estate NTT

FGD Review RIPPARNAS 2011- 2025

Penerapan CHSE Usaha Pariwisata di Provinsi NTT

Tata Kelola Persampahan Di Destinasi Wisata Super Premium Labuan Bajo

Identifikasi Awal Potensi Geowisata NTT

Waterfront City Kota Kupang Sebagai Destinasi Wisata Kota

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Panen Perdana Sayur Organik

Kajian Pengembangan KSPN Nemberala-Rote dan KSPN Alor-Kalabahi


MEDIA SOSIAL DAN KONTAK


| Dinas Pariwisata Provinsi NTT
| @thenewtourismterritory
| @PariwisataNTT


Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT
Jl. Frans Seda 2 No.72, Kayu Putih, Oebobo, Kota Kupang, 85228
(0380) 826384
082144082555