MATERIAL BAMBU UNTUK DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT
Card image
Diposting oleh - Paul J. Andjelicus, Pada 22 May 2024

MATERIAL BAMBU UNTUK DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT

 

Paul J. Andjelicus

Perencana Madya Spasial Disparekraf NTT

Anggota IAI Provinsi NTT

 

   Industri pariwisata telah berupaya menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan yang dilakukan melalui upaya mewujudkan Destinasi Pariwisata  Berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut telah dikeluarkan pedoman melalui Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pedoman  Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. Pedoman ini memuat Standar  Pembangunan Destinasi Wisata Berkelanjutan yaitu standar untuk Pengelolaan Berkelanjutan,  Keberlanjutan Sosial Ekonomi, Keberlanjutan Budaya dan Standar Keberlanjutan Lingkungan.

 

   Artikel ini akan  membahas Standar Keberlanjutan Lingkungan terkait upaya mewujudkan Destinasi Wisata Berkelanjutan melalui kehadiran bangunan fasilitas penunjang wisata yang ramah lingkungan melalui penggunaan material bambu. Salah satu kriteria   pada Standar Keberlanjutan Lingkungan adalah Pengelolaan Air Limbah dan Emisi yang mempunyai salah satu sub kriteria adalah Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan Mitigasi Perubahan Iklim. Sub kriteria  ini   mengharuskan  suatu destinasi wisata memiliki target untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Kita tahu bersama,  penurunan Emisi GRK merupakan isu global penting saat ini untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

 

   Destinasi Wisata wajib memiliki program atau kegiatan untuk mengurangi Emisi GRK  yang dapat dibuktikan melalui   program yang memprioritaskan pemanfaatan energi terbarukan, bangunan ramah lingkungan dan atau  program atau kegiatan pariwisata yang dapat mengurangi emisi karbon seperti menanam bakau di pesisir, penggunaan solar lighting saat camping, dan sebagainya.

 

    Menurut penulis, upaya mengurangi gas rumah kaca dapat dilakukan melalui kehadiran  bangunan fasilitas pariwisata yang ada di  destinasi wisata seperti bangunan akomodasi atau  restoran yang memenuhi prinsip Bangunan Gedung Hijau (BGH) yang meliputi : pengelolaan tapak, efisiensi penggunaan energi, efisiensi penggunaan air, kualitas udara dalam ruang,  penggunaan material ramah lingkungan,  pengelolaan sampah dan pengelolaan air limbah. Prinsip – prinsip  tersebut  sejalan dengan upaya yang disyaratkan dalam pedoman Destinasi Pariwisata  Berkelanjutan pada sub kriteria Emisi GRK.

 

   Penggunaan material ramah lingkungan dapat dilakukan melalui penggunaan material setempat yang ada di sekitar lokasi sehingga mengurangi transportasi material yang dapat meningkatkan emisi karbon. Salah satu material tersebut adalah  bambu. Bambu selama ini sudah terbukti sangat bermanfaat  di seluruh aspek kehidupan mulai dari makanan, obat alami,  perabot rumah tangga, kertas, pembuatan produk kecantikan sampai untuk  bahan bangunan.

 

   Bambu disebut sebagai bahan bangunan yang ramah lingkungan atau green material karena memerlukan energi yang lebih sedikit untuk produksi.  Bambu bertumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ketinggian maksimal  dalam waktu tiga tahun saja, dengan panjang maksimal sekitar 35 cm. Setelah dipanen, bambu bisa kembali beregenerasi dengan cepat. Bambu  bisa tumbuh subur di tanah yang tidak produktif seperti daerah jurang.

  

   Bambu  dapat mengurangi polusi sehingga mampu mengurangi efek rumah kaca,  penyerap CO2 yang baik karena 1 ha bambu mampu menyerap dan menahan 50 ton CO2 per tahun dan mampu menghasilkan oksigen 35 persen lebih banyak dibandingkan  pohon biasa lainnya. Akar bambu dapat mengendalikan erosi tanah dan  mampu menyerap nitrogen dalam jumlah besar sehingga membantu mengurangi polusi air. Bambu mampu menyimpan air dengan baik karena 1 (satu) rumpun bambu dapat menyimpan 5000 liter air pada musim hujan yang bermanfaat pada musim kemarau.

 

   Bambu sebagai bahan bangunan yang ramah lingkungan, banyak digunakan sebagai bahan bangunan untuk struktur dan komponen bangunan pelengkap pada rumah dan infrastruktur lainnya. Selain ringan dan tahan terhadap gempa, bambu mudah digunakan dan diperbaiki saat terjadi kerusakan, ramah bagi kesehatan, memiliki harga yang lebih murah dibandingkan bahan lainnya. Melalui proses pengawetan yang tepat, kinerja bambu dapat ditingkatkan agar  memiliki kekuatan yang besar dan tahan lama.

 

   Sejumlah keunggulan ini telah menjadikan  bambu menjadi bahan konstruksi yang semakin populer dalam industri pariwisata. Bambu adalah pilihan yang sangat relevan saat ini untuk bangunan penunjang  wisata karena sifatnya yang ramah lingkungan, terjangkau dan memiliki potensi estetika yang luar biasa. Banyak karya – karya arsitektur untuk fasilitas wisata seperti akomodasi dan restoran atau gebang kawasan wisata mengunakan material bambu baik secara kesuluruhan maupun dikombinasikan dengan material lainnya. Contohnya  dapat dilihat pada beberapa resort hotel dan restoran di Bali yang dibangun  dari material bambu dan menjelma menjadi karya yang eksotik.

 

Bambu di NTT

   Penggunaan  material bambu di Nusa Tenggara Timur  sangat menjanjikan, karena  provinsi ini memiliki kekayaan alam bambu yang melimpah dengan berbagai jenisnya. Material bambu banyak tersedia khususnya di Pulau Flores disamping Pulau Timor dan Sumba sendiri. Hasil penelitian yang ada telah mengidentifikasi 19 jenis bambu di NTT yang tersebar di sepanjang Pulau Flores dan Sumba. Bahkan 4 diantaranya merupakan jenis bambu endemik atau langka.

 

    Belum ada data yang pasti terkait luasan kawasan hutan bambu yang ada di NTT, namun dari data Yayasan Bambu Lestari, terdapat area bambu seluas 80.000 Ha yang tersebar di Kabupaten Mabar, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada dan Nagekeo. Untuk Pulau  Sumba ada di daerah Pola, Tana Daru, Wanggameti dan Mangili Wati.  Khusus di Kabupaten Ngada sudah ada 10 desa bambu yang dijadikan pusat unggulan dan percontohan untuk daerah lain. 10 desa tersebut adalah Desa Ratogesa, Mataloko, Dokka, Dadawea, Were 1, dan Were 2, Were 4, Waieia, Radabata dan Desa Wogo yang terdapat di Kecamatan Golewa.  

 

   Kalau ditarik ke belakang, bambu telah dipakai sebagai material bangunan, karena banyak bangunan adat atau bangunan tradisional di NTT mengunakan material bamboo. Pengembangan pemanfaatan material bambu untuk bangunan selanjutnya telah mulai digagas melalui berbagai upaya. Pembangunan pusat kawasan bambu di NTT adalah salah satu contohnya seperti   Kampus Desa Bambu Agroforestry di daerah Turetogo Desa Ratogesa Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada pada  tahun 2021 dan Kampus Bambu Komodo di kawasan Destinasi Gua Batu Cermin, Manggarai Barat tahun 2023 lalu.

 

   Kampus Desa Bambu di Kabupaten Ngada dikembangkan oleh Yayasan Bambu Lestari (YBL) di atas lahan seluas 1 Ha dengan  beberapa fasilitas yang akan dibangun secara bertahap seperti fasilitas pengawetan bambu, rumah bambu lestari, mess  dan aula pertemuan untuk berbagai kegiatan diklat dan pertemuan. Kampus ini memiliki area hutan bambu yang dibiarkan terjaga kelestariannya dan  dilengkapi kebun pembibitan yang terdiri dari beberapa jenis bambu dan tanaman sela seperti porang dan tanaman pewarna tradisional.

 

   Sementara Kampus Bambu Komodo (KBK)  terletak di kawasan Destinasi Gua Batu Cermin, Manggarai Barat yang menempati area lahan seluas 2,5 Ha milik pemda,  diarahkan menjadi rumah produksi bersama untuk mengolah bambu menjadi berbagai produk ekonomi kreatif bernilai tinggi dan berkelanjutan. Kemudian akan dikembangkan menjadi pusat pembelajaran (learning centre), fasilitas publik bagi masyarakat yang ingin belajar lebih dalam mengenai bambu, mulai penanaman dan pemanenan.

 

   Saat ini,  bangunan dari bambu di NTT sudah hadir dengan sentuhan teknologi modern sehingga menghasilkan karya bangunan yang indah. Seperti  Sekolah Perhotelan Internasional yang dibangun oleh Sumba Hospitality Foundation tahun 2015 lalu di Kabupaten Sumba Barat Daya.  Fasilitas bangunan yang  dibangun mengunakan bambu sebagai bahan utama seperti bangunan kelas, penginapan dan fasilitas lainnya. Kemudian untuk  bangunan fasilitas wisata,  yang dapat menjadi contoh karya eksotik dari bambu adalah    Restoran Kings di Namosain Kota Kupang dan Restoran La Cove di Kawasan Wisata Pantai Lasiana Kota Kupang.

 


   Peluang karya arsitektur fasilitas wisata dari material bambu untuk melahirkan bangunan yang ramah lingkungan dan eksotik dengan sentuhan modern di NTT terbuka lebar.  Material bambu merupakan material ramah lingkungan, tersedia banyak di NTT dan sudah banyak contoh karya baik di luar NTT maupun di dalam NTT sendiri. Kehadiran bangunan ramah lingungan pada destinasi wisata melalui material bambu ikut memberikan andil nyata bagi  upaya membangun Destinasi Wisata Berkelanjutan di NTT.




Artikel Lainnya


PENTINGNYA PERIZINAN BANGUNAN GEDUNG DALAM USAHA PARIWISATA

PENTINGNYA PERIZINAN BANGUNAN GEDUNG DALAM USAHA PARIWISATA

TREND KE DEPAN, ARSITEKTUR SEBAGAI DAYA TARIK PARIWISATA BAGAIMANA POTENSI DAN PELUANG NTT?

MENATA KAWASAN LELOGAMA, LEMBANGNYA NTT

WISATA TEMATIK DAN DAYA SAING DTW

RESTORASI TERUMBU KARANG DI KAWASAN EKOWISATA PANTAI OESINA KABUPATEN KUPANG

MOTIF KAIN TENUN ADAT NTT UNTUK FASAD BANGUNAN

PROGRAM CSR PT. PEGADAIAN GALERI 24 DISTRO KUPANG UNTUK PANTAI WISATA LASIANA

MENJAGA KEDAULATAN RUPIAH DI KAWASAN PERBATASAN RI – TIMOR LESTE

Kota Kreatif

Lomba Geowisata Goes to School

URGENSI PELINDUNGAN HUKUM EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL (EBT) BERDASARKAN PERATURAN DAERAH UNTUK AKSELERASI PEMBANGUNAN PARIWISATA DI NUSA TENGGARA TIMUR

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT (2)

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT

Calendar of Events East Nusa Tenggara 2024

Potret Komponen Pariwisata Kota Atambua Untuk Mengembangkan Wisata Kota Perbatasan

Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata

Menulis Buku Bagi ASN Perencana

Talk Show Radio Alor : Kolaboratif untuk Mewujudkan NTT sebagai New Tourism Territory

Sertifikasi Profesi Terapis Spa Bidang Tata Kecantikan di Kota Kupang

Kegiatan Penanaman Mangrove Nasional Secara Serentak oleh Presiden Republik Indonesia

Penyelenggaraan Sertifikasi Profesi Bidang Tour Guide

SALAM GEOWISATA

TREND WISATA PASCA PANDEMI COVID-19, WISATA BALAS DENDAM?

DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT

RAGAM KULINER RAMADHAN DI KOTA KUPANG SEBUAH DAYA TARIK WISATA BUDAYA

PENYUSUNAN RENSTRA DISPAREKRAF NTT 2024-2026

BIMTEK 75 BESAR ADWI 2023

MPD SEBAGAI METODE PERHITUNGAN KUNJUNGAN WISATAWAN

SOSIALISASI MENYUSUN DUPAK

DINAS PAREKRAF NTT IKUT RAKORTEKRENBANG TAHUN 2023

BIMTEK DAN WORKSHOP ONLINE ADWI 2023 ZONA II

PUNGUT SAMPAH, PEDULI SAMPAH

Mau Belajar Sambil Rekreasi Dalam Kota?....Ayo ke Kebun TAFA

Pentingnya Perlindungan Kekayaan Intelektual bagi Berbagai Karya Cipta, Rasa dan Karsa Manusia

Festival Desa Binaan Bank NTT dan Upaya Pengembangan Ekonomi Kreatif dalam Kerangka Pemberdayaan Masyarakat

PENINGKATAN KAPASITAS PENYELENGGARAAN SAKIP DI PROVINSI NTT

PENYERAHAN BUKU KOLASE WISATA

Focus Group Discussion (FGD) Dukungan Data Penyusunan Grand Desain Pariwisata NTT

PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA LELOGAMA KABUPATEN KUPANG

DISPAREKRAF NTT “ IKUT” PESPARANI NASIONAL II DI KUPANG

EXPO NUSANTARA : DARI NTT UNTUK NUSANTARA

MEREKAM KOTA KUPANG DARI DE MUSEUM CAFE JKK

Workshop Peningkatan Kapasitas Pengelolaan SDGs bagi Sekretariat SDGs Provinsi NTT

BKD PROVINSI NTT SERAHKAN HASIL UJI KOMPETENSI

Transformasi Pariwisata Modern Menuju Era Industri 4.0 Melalui Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional

Dinas Parekraf Provinsi NTT Berduka

Asah Kemampuan Promosi Kreatif ASN Melalui Kegiatan Pelatihan Pemasaran Pariwisata Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)

FESTIVAL GOLO KOE : GELIAT BARU PARIWISATA LABUAN BAJO

Eksotisnya Pantai di Ujung Utara Flores

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT Selenggarakan Pelatihan Implementasi Konsep CHSE

Ruang Terbuka Publik dan Penanganannya

Sosialisasi Input Data Innovative Government Award Tahun 2022

JEJAK SUKACITA FESTIVAL MUSIM DINGIN TAHUN 2022 DI SURGA TERSEMBUNYI TIMOR TENGAH SELATAN

WELCOME LABUAN BAJO

Catatan Kecil Kegiatan Workshop Pengembangan Ekonomi Digital dan Produk Kreatif ASN

KOTA ENDE, KOTA LAHIRNYA PANCASILA

AJANG ANUGERAH PESONA INDONESIA (API) 2022

Workshop Penguatan Kapasitas Sekretariat SDGs Daerah Dalam Pengelolaan Pelaksanaan SDGs

KOTA KUPANG DALAM PAMERAN GAMBAR MALOI KUPANG

Kampung Seni Flobamorata Kupang

Lasiana Beach

KAWASAN PARIWISATA ESTATE NTT : Dimana Batas-Batasnya ? Berapa Luasnya?

Standar Operasional Prosedur Disparekraf Prov. NTT

Standar Pelayanan Publik

Maklumat Pelayanan Publik Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT

DESA GOLO LONI MENAWARKAN WISATA ARUNG JERAM DI FLORES

IDENTIFIKASI DAN WORKSHOP PENGEMBANGAN HOMESTAY DI DESA GOLO LONI KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

Wisata Aman Bencana di NTT

Catatan Perjalanan Wisata di Fatumnasi

KEGIATAN MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

KEGIATAN PRA MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

Membangun Kemandirian Lokal Menjadi Arah Pembangunan NTT 2023

Kemenparekraf Gelar Workshop Pengelolaan Event Daerah Demi Wujudkan Event Berkualitas

RUMAH BUMN, RUMAHNYA INDUSTRI KREATIF

RAPAT KOORDINASI MENDUKUNG CAPAIAN TARGET PESERTA DESA WISATA YANG AKAN MENDAFTAR DI ADWI 2022

SOSIALISASI PENGINPUTAN RKPD NTT TAHUN 2023

Buku Database 2021

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ENDE

Karya Arsitektur sebagai Daya Tarik Wisata

Pertemuan dengan Forkasse (Forum Komunikasi antar sanggar Seni Provinsi NTT)

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ALOR

DINAS PAREKRAF NTT BELAJAR APLIKASI BELA

Outlook Parekraf 2022

Mengenal Dunia Astronomi Melalui Wisata Ke Observatorium Nasional Timau Kabupaten Kupang

PROTOKOL KESEHATAN PADA DESTINASI WISATA

Semauku Indah

MENDATA POTENSI USAHA EKONOMI KREATIF DI KABUPATEN KUPANG

WISATA KOTA, KOTA WISATA

NTT Hijau dalam Pesona 1000 Bonsai

KICKOFF JABATAN FUNGSIONAL ADYATAMA KEPARIWISATAAN DAN EKONOMI KREATIF

PARIWISATA NTT BUTUH BRANDING, GUYS !

Regional Calender Tourism Events 2022

RAKOR PEMBANGUNAN PARIWISATA RING OF BEAUTY NTT

KENYAMANAN RUANG HOMESTAY

SOSIALISASI DAN SIMULASI PANDUAN SERTIFIKASI CHSE PADA PENYELENGGARAAN MICE

MENATA ARSITEKTUR KOTA LABUAN BAJO

KASUS HIV AIDS DI PROVINSI NTT TETAP MENINGKAT

Konsep Desain Monumen di Kelurahan LLBK Kota Kupang

PEMBANGUNAN DI PROVINSI NTT MEMBUTUHKAN HARMONISASI DAN SINKRONISASI

DESA WISATA, DESA WISATA TEMATIK DAN DESA WISATA HIJAU. Mana yang Cocok Untuk NTT?

Reef Check Indonesia Kembangkan Wisata Spesies dan Industri Penunjangnya di Kabupaten Kupang dan Rote Ndao

Simulasi Bencana di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov. NTT

MENDORONG STANDARISASI PELAKU PARIWISATA

Kolaborasi Kemitraan, Disparekraf NTT Gandeng Pelaku Wisata

Upaya Penerapan ISO 9001 : 2015 di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT

PEMBINAAN STATISTIK SEKTORAL PARIWISATA

Catatan Perjalanan ke Liman

Wisata Langit Gelap “Lelogama”

TALK SHOW ONLINE ANTARA BETA, DIA DAN DESTINASI WISATA NTT: KEMARIN, KINI DAN NANTI

Diseminiasi Anggaran Belanja Dinas Parekraf NTT

Konsultasi Publik Penyusunan Dokumen Antara Rencana Zonasi Kawasan Antar Wilayah Laut Bali dan Sekitarnya

Diskusi Konsep Smart Tourism di Indonesia Timur

Rapat Tim Pengelola Website Dinas Parekraf NTT

Bambu dan Prospek Pengembanganya Bagi Ekowisata NTT

Kunjungan Kerja Gubernur NTT ke Kantor Dinas Parekraf NTT

Kunjungan Bupati Malaka

Lokakarya Konsolidasi Pembentukan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana

Pertemuan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana Provinsi NTT

Literasi Desa Koanara Kabupaten Ende

Literasi Obyek Wisata Desa Praimadita Kabupaten Sumba Timur

Literasi Kabupaten Alor

Literasi Lamalera

Profile Kawasan Pariwisata Estate (PE)

MENDORONG KAMPUNG DENGE SEBAGAI PINTU GERBANG KAWASAN WISATA WAEREBO

EVALUASI DESTINASI WISATA PASCA BENCANA ALAM

Tourism Event 2022

WORKSHOP ARSITEK

DISKUSI PUBLIK PARIWISATA AMAN BENCANA DI PROVINSI NTT

MENEMUKAN POTENSI INDENTITAS FISIK KOTA KUPANG

DAYA TARIK WISATA RUMAH ADAT NTT

Belajar dari Utusan Khusus Presiden Seychelles

Pariwisata Nusa Tenggara Timur, Cerah-Cemerlang

Deseminasi Pengelolaan Website Dinas Parekraf NTT

Menggali Spirit of Place Dalam Desain Kawasan Pariwisata Estate NTT

FGD Review RIPPARNAS 2011- 2025

Penerapan CHSE Usaha Pariwisata di Provinsi NTT

Tata Kelola Persampahan Di Destinasi Wisata Super Premium Labuan Bajo

Identifikasi Awal Potensi Geowisata NTT

Waterfront City Kota Kupang Sebagai Destinasi Wisata Kota

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Panen Perdana Sayur Organik

Kajian Pengembangan KSPN Nemberala-Rote dan KSPN Alor-Kalabahi


MEDIA SOSIAL DAN KONTAK


| Dinas Pariwisata Provinsi NTT
| @thenewtourismterritory
| @PariwisataNTT


Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT
Jl. Frans Seda 2 No.72, Kayu Putih, Oebobo, Kota Kupang, 85228
(0380) 826384
082144082555