RAGAM KULINER RAMADHAN DI KOTA KUPANG SEBUAH DAYA TARIK WISATA BUDAYA
Card image
Diposting oleh - Dinas Parekraf Provinsi NTT, Pada 17 April 2023

RAGAM KULINER RAMADHAN DI KOTA KUPANG
SEBUAH DAYA TARIK WISATA BUDAYA


Bulan Ramadhan merupakan bulan suci bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan ini umat muslim melaksanakan ibadah puasa. Tradisi unik yang berlangsung ketika bulan Ramadhan juga berbeda-beda di setiap Negara.  Di Indonesia terdapat tradisi ngabuburit, yakni menunggu waktu berbuka di tempat tertentu dan biasanya dibarengi dengan  berbelanja makanan berbuka puasa.

 

Tradisi Ramadhan di Kota Kupang tidak lepas dari keberadaan penduduk muslim. Awal mula kedatangan penduduk muslim di Kupang berasal dari kedatangan para pedagang muslim yang sebelumnya sudah bermukim di Solor untuk mencari kayu cendana di Pulau Timor. Kedatangan pedagang muslim ini pertama kali di daerah Fatubesi dan Oeba yang terdapat sumber air yang kemudian membuat permukiman yang membaur dengan orang-orang Helong yang lebih dulu bermukim di Kupang. (Satriani, 2017: 16-18)

 

Tradisi ngabuburit di Kupang biasa bersamaan dengan berburu takjil untuk berbuka puasa di lokasi-lokasi tertentu.  Masyarakat yang ngabuburit biasanya dimulai pada jam 4 sore hingga adzan maghrib berkumandang saat matahari terbenam. Lokasi ngabuburit sambil berbelanja takjil di Kota Kupang berada di  Kawasan Kota Lama Kupang, yakni JKS (Jajanan Kampung Solor) di depan Katedral  Kristus Raja Kupang dan JAM (Jajanan Air Mata) di depan Kantor Bupati Lama Kupang.

 

Sejarah Kampung Solor dan Airmata

Keberadaan Katedral di Kota Kupang tidak lepas berdirinya permukiman Portugis di dekat sungai Kuanino pada Tahun 1645 Kedatangan Portugis di Kupang untuk menguasai perdagangan kayu cendana dan mengantarkan para misionaris untuk menyebarkan agama Katolik di Pulau Timor. Namun karena persaingan dengan VOC dan konflik dengan kerajaan lokal di Timor akhirnya Portugis hengkang dari Kupang setelah peperangan sengit dengan berbagai pihak selama dekade 1640 hingga 1650 an. Setelah kepergian Portugis, Kota Kupang kemudian dikuasai oleh Kerajaan Helong (Taebenu) dan VOC, sebagai hadiah atas aliansi dengan Solor beserta sekutunya yang keturunan Arab maka diberikanlah tanah di Muara Oeba yang kemudian menjadi Kampung Solor, dan  dekat Benteng Concordia di muara Kali Dendeng untuk permukiman yang kemudian dinamai dengan Kampung Air Mata (Hagerdal, 2012: 94-109).

 

Kampung Airmata merupakan salah satu permukiman muslim tertua di Kota Kupang, di Kampung ini terdapat Masjid yang pertama kali dibangun di Kota Kupang. Tahun 1812 seseorang yang bernama Sya’ban bin Sanga merintis pembangunan Masjid Airmata. Pada tahun 1825-1830 datang seorang pangeran Surya Mataram dan Syeh Syarif Abu Bakar bin Abdulrahman Alqodri dari Pontianak. Ia diasingkan oleh Belanda ke Sumba kemudian dipindahkan ke Kupang akibat perdagangan budak. Pada tahun 1886 ia menetap di kampung Airmata sampai wafat pada tahun 1897. Syeh Syarif Abu Bakar bin Abdulrahman Alqodri merupakan keturunan Arab yang tinggal di Kampung Airmata (Luitnan,2012:195; Satriani, 2017:4).

 

Masjid Airmata ketika dibangun pertama kali tahun 1806 Masehi berarsitektur perpaduan gaya Jawa dan Cina dengan ukuran 10 x 10 meter, berbentuk joglo, dengan atap genteng. Tahun 1984 masehi dilkukan pemugaran total dengan pemrakarasa Imam H. Birando bin Taher. Menjadi bentuknya yang sekarang.Pemugaran ini dilakukan Birando bin Tahir atas persetujuan jemaah setempat, dengan sejumlah alasan, di antaranya bertambah pesatnya warga muslim dam muslimah. Pemugaran itu juga didasarkan pada kondisi rumah ibadah tertua ini tidak layak lagi dipandang, karena sebagian dinding dan atap mengalami perapuhan, sehingga perlu direnovasi, tanpa menghilangkan keasliannya yang tetap nampak pada sebagian dinding ruangan yang hingga kini masih ada di Masjid Airmata. Masjid Kampung Airmata Kupang menjadi simbol pemersatu umat beragama di Kupang dan sekitarnya, karena sejak pertama kali dibangun bergotong royong bersama masyarakat Nasrani setempat. Selain dari itu Masjid Airmata juga merupakan potret dasar masuknya Islam di Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur (NTT). Masjid ini merupakan pemersatu warga Muslim dan nonmuslim dan letaknya tepat di tengah tengah. (Satriani, 2017: 34-35)

 

Di lokasi JAM dan JKS ini bisa dijumpai aneka makanan yang dijajakan di lokasi ini berbagai macam, mulai dari kue jajanan pasar seperti Kue Bajongko, Kalesong, Kue Abu, Salome, Klepon, Wajik, Jalangkote, Kue Cucur, Panada, Kue Lapis, Perut Ayam, Mata Kebo, Putu Ayu. Adapun aneka minuman seperti es Pisang Ijo, Es Buah, Es Dawet, Es Cincau. Aneka bubur seperti bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur sagu, bubur candil, bubur sum-sum. Selain itu ada juga makanan berat seperti Nasi Bakar, Nasi Rendang, Sate, Pampis Ayam, Ikan bakar.

 

Makanan khas dari pusat kuliner ramadhan JKS dan JAM adalah jajanan khas Kota Kupang, yakni Kue Bajongko, Kalesong, Kue Abu, dan Salome. Kue Bajongko terbuat dari adonan tepung beras, santan kelapa, dengan tambahan irisan gula yang kemudian dibungkus dan dikukus hingga matang. Cita rasa kue ini cenderung kenyal dari tepung beras, manis dari gula merah dan gurih dari santan kelapa. Berbeda dengan Bajongko, Kalesong bercita rasa dominan gurih. Kue Kalesong dibuat dari beras yang dicampur kelapa yang dibungkus dengan daun kelapa. Karakteristik kue ini mirip dengan Lepet yang ada di Pulau Jawa. Kue Abu di Kupang mirip dengan Awug yang ada di Jawa Barat. Kue ini dibuat dari adonan tepung ketan yang dicampur parutan kelapa yang kemudian dibungkus daun pisang membentuk kerucut dan dikukus hingga matang. Bedanya dengan Awug, kue Abu di Kupang berukuran lebih kecil. Berbeda dengan kue-kue di atas yang dibuat dari olahan beras, kelapa dan gula merah, Salome terbuat dari olahan tepung terigu dan daging yang tekstur dan rasanya mirip dengan bakso pentol yang di Jawa. Salome merupakan jajanan favorit warga Kupang. Yang membedakan hanya “bakso” kecil ini digoreng lagi setelah dilumuri telur dan ketika akan disantap disiram dengan bumbu kacang.

 

Beragam jenis makanan yang dijajakan dalam pusat kuliner ramadhan JKS dan JAM merupakan bukti adanya silang budaya yang terjadi di masyarakat Kota Kupang. Penduduk Kota Kupang yang beragam yang terdiri dari Orang Atoni yang berbahasa Dawan, Helong dari Pulau Seram, Orang Solor, Rote, Sabu, Bugis dan Makassar yang hidup berdampingan dari abad-17. Seiring berjalannya waktu, penduduk di Kota Kupang semakin beragam karena menjadi Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 1958.

 

Lokasi pusat kuliner ramadhan di Kota Kupang yang tidak jauh dari Katedral mencerminkan kerukunan antar umat beragama yang ada di Kota Kupang. Hal ini merupakan cerminan dari semboyan Kupang Kota Kasih. Kondisi ini sangat mendukung untuk menjadikan Kota Kupang sebagai Destinasi Pariwisata yang Aman dan Lestari. Maka dari itu diperlukan sebuah kebijakan yang tepat untuk mendukung adanya wisata kota yang edukatif dan penuh daya tarik di Kota Kupang.

 

Penulis: Wachid Azis, S.Ark. (Analis Objek Wisata Disparekraf NTT)

Kupang, 14 April 2023

Dokumentasi: Pribadi

 

Referensi:

Hägerdal, Hans. 2013. Lords of The Land, Lords of The Sea. Leiden: KITLV.Press.

Satriani, Sekar Mirah. 2017. Karakteristik Permukiman Islam di Kampung Airmata Kupang Nusa Tenggara Timur. Skripsi. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.

https://thr.kompasiana.com/tilariapadika/5afc1739ab12ae54422d0c12/berburu-kalesong-di-air-mata-one-stop-area-berbuka-puasa

http://jogjaicon.blogspot.com/2011/01/kue-bajongko-si-putih-manis-dari.html

https://uun-halimah.blogspot.com/2011/04/kue-abu.html

https://www.tribunnews.com/travel/2015/08/10/salome-tamnos-jajanan-asal-kupang-enak-dan-murah-diserbu-karyawan-saat-pulang-kerja



Artikel Lainnya


MENATA KAWASAN LELOGAMA, LEMBANGNYA NTT

WISATA TEMATIK DAN DAYA SAING DTW

RESTORASI TERUMBU KARANG DI KAWASAN EKOWISATA PANTAI OESINA KABUPATEN KUPANG

MOTIF KAIN TENUN ADAT NTT UNTUK FASAD BANGUNAN

PROGRAM CSR PT. PEGADAIAN GALERI 24 DISTRO KUPANG UNTUK PANTAI WISATA LASIANA

MENJAGA KEDAULATAN RUPIAH DI KAWASAN PERBATASAN RI – TIMOR LESTE

Kota Kreatif

Lomba Geowisata Goes to School

URGENSI PELINDUNGAN HUKUM EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL (EBT) BERDASARKAN PERATURAN DAERAH UNTUK AKSELERASI PEMBANGUNAN PARIWISATA DI NUSA TENGGARA TIMUR

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT (2)

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT

Calendar of Events East Nusa Tenggara 2024

Potret Komponen Pariwisata Kota Atambua Untuk Mengembangkan Wisata Kota Perbatasan

Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata

Menulis Buku Bagi ASN Perencana

Talk Show Radio Alor : Kolaboratif untuk Mewujudkan NTT sebagai New Tourism Territory

Sertifikasi Profesi Terapis Spa Bidang Tata Kecantikan di Kota Kupang

Kegiatan Penanaman Mangrove Nasional Secara Serentak oleh Presiden Republik Indonesia

Penyelenggaraan Sertifikasi Profesi Bidang Tour Guide

SALAM GEOWISATA

TREND WISATA PASCA PANDEMI COVID-19, WISATA BALAS DENDAM?

DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT

PENYUSUNAN RENSTRA DISPAREKRAF NTT 2024-2026

BIMTEK 75 BESAR ADWI 2023

MPD SEBAGAI METODE PERHITUNGAN KUNJUNGAN WISATAWAN

SOSIALISASI MENYUSUN DUPAK

DINAS PAREKRAF NTT IKUT RAKORTEKRENBANG TAHUN 2023

BIMTEK DAN WORKSHOP ONLINE ADWI 2023 ZONA II

PUNGUT SAMPAH, PEDULI SAMPAH

Mau Belajar Sambil Rekreasi Dalam Kota?....Ayo ke Kebun TAFA

Pentingnya Perlindungan Kekayaan Intelektual bagi Berbagai Karya Cipta, Rasa dan Karsa Manusia

Festival Desa Binaan Bank NTT dan Upaya Pengembangan Ekonomi Kreatif dalam Kerangka Pemberdayaan Masyarakat

PENINGKATAN KAPASITAS PENYELENGGARAAN SAKIP DI PROVINSI NTT

PENYERAHAN BUKU KOLASE WISATA

Focus Group Discussion (FGD) Dukungan Data Penyusunan Grand Desain Pariwisata NTT

PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA LELOGAMA KABUPATEN KUPANG

DISPAREKRAF NTT “ IKUT” PESPARANI NASIONAL II DI KUPANG

EXPO NUSANTARA : DARI NTT UNTUK NUSANTARA

MEREKAM KOTA KUPANG DARI DE MUSEUM CAFE JKK

Workshop Peningkatan Kapasitas Pengelolaan SDGs bagi Sekretariat SDGs Provinsi NTT

BKD PROVINSI NTT SERAHKAN HASIL UJI KOMPETENSI

Transformasi Pariwisata Modern Menuju Era Industri 4.0 Melalui Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional

Dinas Parekraf Provinsi NTT Berduka

Asah Kemampuan Promosi Kreatif ASN Melalui Kegiatan Pelatihan Pemasaran Pariwisata Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)

FESTIVAL GOLO KOE : GELIAT BARU PARIWISATA LABUAN BAJO

Eksotisnya Pantai di Ujung Utara Flores

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT Selenggarakan Pelatihan Implementasi Konsep CHSE

Ruang Terbuka Publik dan Penanganannya

Sosialisasi Input Data Innovative Government Award Tahun 2022

JEJAK SUKACITA FESTIVAL MUSIM DINGIN TAHUN 2022 DI SURGA TERSEMBUNYI TIMOR TENGAH SELATAN

WELCOME LABUAN BAJO

Catatan Kecil Kegiatan Workshop Pengembangan Ekonomi Digital dan Produk Kreatif ASN

KOTA ENDE, KOTA LAHIRNYA PANCASILA

AJANG ANUGERAH PESONA INDONESIA (API) 2022

Workshop Penguatan Kapasitas Sekretariat SDGs Daerah Dalam Pengelolaan Pelaksanaan SDGs

KOTA KUPANG DALAM PAMERAN GAMBAR MALOI KUPANG

Kampung Seni Flobamorata Kupang

Lasiana Beach

KAWASAN PARIWISATA ESTATE NTT : Dimana Batas-Batasnya ? Berapa Luasnya?

Standar Operasional Prosedur Disparekraf Prov. NTT

Standar Pelayanan Publik

Maklumat Pelayanan Publik Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT

DESA GOLO LONI MENAWARKAN WISATA ARUNG JERAM DI FLORES

IDENTIFIKASI DAN WORKSHOP PENGEMBANGAN HOMESTAY DI DESA GOLO LONI KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

Wisata Aman Bencana di NTT

Catatan Perjalanan Wisata di Fatumnasi

KEGIATAN MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

KEGIATAN PRA MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

Membangun Kemandirian Lokal Menjadi Arah Pembangunan NTT 2023

Kemenparekraf Gelar Workshop Pengelolaan Event Daerah Demi Wujudkan Event Berkualitas

RUMAH BUMN, RUMAHNYA INDUSTRI KREATIF

RAPAT KOORDINASI MENDUKUNG CAPAIAN TARGET PESERTA DESA WISATA YANG AKAN MENDAFTAR DI ADWI 2022

SOSIALISASI PENGINPUTAN RKPD NTT TAHUN 2023

Buku Database 2021

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ENDE

Karya Arsitektur sebagai Daya Tarik Wisata

Pertemuan dengan Forkasse (Forum Komunikasi antar sanggar Seni Provinsi NTT)

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ALOR

DINAS PAREKRAF NTT BELAJAR APLIKASI BELA

Outlook Parekraf 2022

Mengenal Dunia Astronomi Melalui Wisata Ke Observatorium Nasional Timau Kabupaten Kupang

PROTOKOL KESEHATAN PADA DESTINASI WISATA

Semauku Indah

MENDATA POTENSI USAHA EKONOMI KREATIF DI KABUPATEN KUPANG

WISATA KOTA, KOTA WISATA

NTT Hijau dalam Pesona 1000 Bonsai

KICKOFF JABATAN FUNGSIONAL ADYATAMA KEPARIWISATAAN DAN EKONOMI KREATIF

PARIWISATA NTT BUTUH BRANDING, GUYS !

Regional Calender Tourism Events 2022

RAKOR PEMBANGUNAN PARIWISATA RING OF BEAUTY NTT

KENYAMANAN RUANG HOMESTAY

SOSIALISASI DAN SIMULASI PANDUAN SERTIFIKASI CHSE PADA PENYELENGGARAAN MICE

MENATA ARSITEKTUR KOTA LABUAN BAJO

KASUS HIV AIDS DI PROVINSI NTT TETAP MENINGKAT

Konsep Desain Monumen di Kelurahan LLBK Kota Kupang

PEMBANGUNAN DI PROVINSI NTT MEMBUTUHKAN HARMONISASI DAN SINKRONISASI

DESA WISATA, DESA WISATA TEMATIK DAN DESA WISATA HIJAU. Mana yang Cocok Untuk NTT?

Reef Check Indonesia Kembangkan Wisata Spesies dan Industri Penunjangnya di Kabupaten Kupang dan Rote Ndao

Simulasi Bencana di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov. NTT

MENDORONG STANDARISASI PELAKU PARIWISATA

Kolaborasi Kemitraan, Disparekraf NTT Gandeng Pelaku Wisata

Upaya Penerapan ISO 9001 : 2015 di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT

PEMBINAAN STATISTIK SEKTORAL PARIWISATA

Catatan Perjalanan ke Liman

Wisata Langit Gelap “Lelogama”

TALK SHOW ONLINE ANTARA BETA, DIA DAN DESTINASI WISATA NTT: KEMARIN, KINI DAN NANTI

Diseminiasi Anggaran Belanja Dinas Parekraf NTT

Konsultasi Publik Penyusunan Dokumen Antara Rencana Zonasi Kawasan Antar Wilayah Laut Bali dan Sekitarnya

Diskusi Konsep Smart Tourism di Indonesia Timur

Rapat Tim Pengelola Website Dinas Parekraf NTT

Bambu dan Prospek Pengembanganya Bagi Ekowisata NTT

Kunjungan Kerja Gubernur NTT ke Kantor Dinas Parekraf NTT

Kunjungan Bupati Malaka

Lokakarya Konsolidasi Pembentukan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana

Pertemuan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana Provinsi NTT

Literasi Desa Koanara Kabupaten Ende

Literasi Obyek Wisata Desa Praimadita Kabupaten Sumba Timur

Literasi Kabupaten Alor

Literasi Lamalera

Profile Kawasan Pariwisata Estate (PE)

MENDORONG KAMPUNG DENGE SEBAGAI PINTU GERBANG KAWASAN WISATA WAEREBO

EVALUASI DESTINASI WISATA PASCA BENCANA ALAM

Tourism Event 2022

WORKSHOP ARSITEK

DISKUSI PUBLIK PARIWISATA AMAN BENCANA DI PROVINSI NTT

MENEMUKAN POTENSI INDENTITAS FISIK KOTA KUPANG

DAYA TARIK WISATA RUMAH ADAT NTT

Belajar dari Utusan Khusus Presiden Seychelles

Pariwisata Nusa Tenggara Timur, Cerah-Cemerlang

Deseminasi Pengelolaan Website Dinas Parekraf NTT

Menggali Spirit of Place Dalam Desain Kawasan Pariwisata Estate NTT

FGD Review RIPPARNAS 2011- 2025

Penerapan CHSE Usaha Pariwisata di Provinsi NTT

Tata Kelola Persampahan Di Destinasi Wisata Super Premium Labuan Bajo

Identifikasi Awal Potensi Geowisata NTT

Waterfront City Kota Kupang Sebagai Destinasi Wisata Kota

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Panen Perdana Sayur Organik

Kajian Pengembangan KSPN Nemberala-Rote dan KSPN Alor-Kalabahi


MEDIA SOSIAL DAN KONTAK


| Dinas Pariwisata Provinsi NTT
| @thenewtourismterritory
| @PariwisataNTT


Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT
Jl. Frans Seda 2 No.72, Kayu Putih, Oebobo, Kota Kupang, 85228
(0380) 826384
082144082555