Festival Desa Binaan Bank NTT dan Upaya Pengembangan Ekonomi Kreatif dalam Kerangka Pemberdayaan Masyarakat
Card image
Diposting oleh - Dinas Parekraf Provinsi NTT, Pada 07 February 2023

Festival Desa Binaan Bank NTT dan Upaya Pengembangan Ekonomi Kreatif dalam menyusun Pemberdayaan Masyarakat

Oleh : Johny Rohi – Kabid Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif


Pengantar

     Provinsi Nusa Tenggara Timur sangat kaya akan potensi ekonomi lokal baik yang berbasis pertanian, peternakan, perikanan yang dapat dijadikan produk makanan hingga potensi daya tarik wisata yang beragam dan tersebar di seluruh wilayah. Berbagai potensi tersebut sangat berkaitan dengan kehidupan masyarakat lokal (gaya hidup) namun belum sepenuhnya digarap secara optimal sehingga belum memberikan hasil yang maksimal bagi upaya pemberdayaan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi domestik. Karena berkaitan dengan keseharian kehidupan masyarakat, maka berbagai potensi yang keberadaannya melekat dengan masyarakat itu sendiri; ada, dimiliki dan bertumbuh bersama masyarakat. Aktifitas masyarakat yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan pokok sandang, pangan dan papan merupakan proses ekonomi yang menghasilkan produk barang dan jasa. Proses ekonomi ini yang apabila diberi sentuhan ide, gagasan dan kreatifitas maka akan memberi nilai tambah bagi produk tersebut. Nilai tambah inilah yang dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang pada gilirannya akan memberi dampak bagi pertumbuhan ekonomi domestik, pengembangan kesempatan berusaha serta pembangunan citra wilayah. Aktifitas inilah yang disebut sebagai ekonomi kreatif yaitu suatu proses peningkatan nilai tambah hasil dari eksplorasi kekayaan intelektual berupa kreativitas, keterampilan, dan bakat individu menjadi suatu produk yang dapat dijual. Menurut Aflin Tofler (1980) bahwa terdapat tiga gelombang peradaban ekonomi yaitu pertanian, industri dan informatika, dan ia sudah memprediksi adanya gelombang yang keempat yaitu era ekonomi kreatif.

Festival Desa Binaan dan PAD Bank NTT

      Pembangunan ekonomi berbasis masyarakat (ekonomi kerakyatan) merupakan upaya untuk meningkatkan potensi yang ada dan dimiliki oleh masyarakat sehingga upaya pengembangannya dapat memberikan nilai tambah sehingga berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi domestik masyarakat setempat. Kebijakan pembangunan yang dimulai dari desa dan pinggiran tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam mengelola berbagai potensi yang ada sehingga dapat bernilai ekonomis. Dari 16 subsektor ekonomi kreatif, Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki keunggulan kompetitif maupun komparatif pada sektor kuliner, fashion dan kriya. Ketiga subsektor ini memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri yang dapat bersaing di pasar lokal, regional, nasional maupun global. Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan desa merupakan salah satu cara dalam penyelesaian masalah taraf hidup dan masalah ekonomi masyarakat desa. Oleh karena itu perlu membentuk dan mengembangkan desa binaaan di masing-masing kabupaten/kota. Desa binaan yang dibentuk, menuntun kehidupan masyarakat desa ke arah yang lebih sejahtera, meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan, mewujudkan kemandirian masyarakat desa serta mempermudah akses masyarakat desa untuk memperoleh informasi potensi dan peluang usaha yang ditawarkan. Kehadiran Bank NTT lewat Festival Desa Binaan dan PAD, dapat memicu godaan maksud tersebut terutama dalam mengimplementasi misi Bank NTT sebagai Pelopor Penggerak Ekonomi Rakyat. Selama dua tahun penulis terlibat dalam tim seleksi Desa Binaan, terlihat adanya peningkatan dari aspek konsolidasi internal dan penilaian indikator seperti aspek sosial, ekonomi, infrastruktur, lingkungan, kelembagaan dan kontribusi bagi pendapatan asli daerah setempat. Aspek digitalisasi produk dan pemasaran, standarisasi usaha dan produk, pengemasan produk, legalitas kelembagaan desa serta kontribusi PAD merupakan instrumen kunci dalam penilaian Desa Binaan ini.

 

Potensi

     Dari 115 Desa di 22 Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa Tenggara Timur, penulis melakukan penilaian di Kota Kupang (Bakunase, Nunbaun Delha, Oesapa, Oesapa Selatan) dan di Kabupaten Sumba Barat Daya (Radamata, Watukawula, Ombarade, Kadiroma, Temata) serta melakukan penilaian lanjutan di Kabupaten Sikka (Bloro, Watuliwung, Wairterang, Egon, Kolisia B), Kabupaten Manggarai (Satarlenda, Golo Muntas, Kajong, Lando, Waenanga) dan Kabupaten Rote Ndao (Kolobolon, Daleholu, Busalangga Timur, Saindule, Tungganamo). Kota Kupang dengan kekuatan utama pada bisnis jasa (kuliner) di dukung dengan produk olahan dan kriya (asesoris berbasis perca tenunan) dengan latar belakang kelompok usaha seperti karang taruna, jemaat gereja maupun kelompok sadar wisata. Kabupaten SBD menampilkan potensi unggulan dari produk olahan berbahan lokal (ubi, talas, ketela, kelor, kunyit, jahe, tepung, labu, kopi, dll) serta aspek fashion (tenunan) dengan memanfaatkan kelompok perempuan, pemuda, kelompok sadar wisata serta kelompok potensial lainnya. Kabupaten Sikka juga mengembangkan produk olahan (tepung kelor, ubi, pisang), industri rumah tangga (minyak goreng, VCO, coklat) serta tenunan dengan memanfaatkan kelompok usaha PKK setempat. Kabupaten Manggarai dengan potensi produk olahan (kopi, minyak kelapa/VCO, kecap gula aren, kunyit, jahe), pangan lokal serta tenunan songke. Kabupaten Rote Ndao lebih pada pengembangan pertanian (buah naga, jagung, hortikultura, cabe) serta perikanan (ikan asap), pisang, industri rumah tangga (minyak goreng, VCO, coklat) serta tenunan dengan memanfaatkan kelompok usaha PKK setempat.  

Masalah

   Dari visitasi penilaian yang dilakukan, diketahui beberapa permasalahan yang berkaitan dengan pengembangan Desa Binaan ke depan, antara lain :

1.  Kelembagaan  : legalitas lembaga yang ada di desa seperti BUMDes yang belum berbadan hukum, kelompok masyarakat yang belum memiliki AD/ART, belum adanya NIB pelaku usaha;

2.  Produk : kemasan berbahan sederhana, belum adanya standardisasi/sertifikasi produk (SNI, BPOM, Halal, dll), masih kurangnya diversifikasi produk, keterbatasan produksi (kualitas, kuantitas dan kontinuitas);

3.   Pemasaran : akses pasar terbatas dan cenderung konvensional, lemahnya digitalisasi pemasaran (pemanfaatan e-commerce, market place, media sosial), publikasi produk yang terbatas;

4.     Permodalan : terbatasnya akses permodalan (sebagian dikarenakan masih terikat pinjaman pada lembaga bank/non bank lainnya);

5.     Kapasitas usaha : terbatasnya keterampilan usaha, belum/tidak ada perencanaan usaha;

6.     Dukungan : terbatasnya dukungan bagi pengembangan usaha misalnya yang bersumber dari dana desa, terbatasnya peran sektoral

 

 Rekomendasi

1.     Melakukan pendampingan bagi percepatan aspek legalitas kelembagaan usaha di Desa Binaan;

2.  Mendorong   dan memfasilitasi standardisasi produk usaha yang ada di Desa Binaan agar produknya dapat bersaing di pasar global termasuk fasilitasi perlindungan terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HKI);

3.  Melakukan pengembangan kapasitas pelaku usaha antara lain terkait dengan diversifikasi produk, higineitas, perencanaan serta pengembangan digitalisasi pemasaran dan pelibatan pelaku usaha dalam kegiatan eksebisi/pameran UMKM baik skala lokal, nasional maupun internasional;

4. Mendorong     peran sentral dari Dekranasda Kabupaten/Kota untuk tidak menjadi bapak asuh  bagi pelaku usaha yang ada di Desa Binaan agar produk dapat diterima oleh pasar secara kerkesinambungan;

5.     Memudahkan proses bantuan modal usaha baik dengan skema KUR, insentif maupun skema lainnya;

6.     Fasilitasi pembentukan unit usaha yang memproduksi kemasan sehingga dapat mengurangi biaya produksi;

7.   Sebagai panutan  dalam upaya pemberdayaan dan pembangunan berbasis masyarakat, perlu adanya sinergitas dan kolaborasi dengan sektor pemerintahan dalam membangun ekosistem ekonomi (rantai pasok dan kekacauan nilai) pada Desa Binaan Bank NTT;

8.    Penetrasi program Agen Di@Bisa  dengan melibatkan kelompok potensial di desa (pemuda, perempuan, agama) agar kebutuhan utama masyarakat dapat dijangkau melalui model elektronifikasi ini;

9.  Mendorong adanya koperasi di setiap Desa Binaan Bank NTT;

10.Mengembangkan gerai potensi lokal (Lopo Di@Bisa) yang lebih spesifik seperti gerai kopi untuk menarik minat kunjungan ke Desa Binaan;

11.Tetap melakukan upaya pendampingan dan pembinaan bagi desa binaan ini secara berkelanjutan serta melakukan evaluasi perkembangannya secara periodik;

12.Mendorong   peran serta berbagai pemangku kepentingan  dengan pendekatan kolaborasi (penthahelix) dalam pengembangan Desa Binaan terutama peran sentral Dekranasda Kabupaten/Kota.

 

Penutup

   Kehadiran Bank NTT dengan misi menjadi Pelopor Penggerak Ekonomi Rakyat,  telah nyata dalam upaya menggerakkan sektor riil berbasis masyarakat dalam mengembangkan kapasitas usaha untuk pemberdayaan dan kesejahteraan serta pendekatan digitalisasi potensi (elektronifikasi);

   Festival Desa Binaan dan PAD Bank NTT Tahun 2022 unggulan menjadi role model    pembangunan berbasis masyarakat sudah seharusnya dilakukan secara sinergis dan kolaboratif berbagai sektor sehingga dapat memberi manfaat yang lebih optimal dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini juga harus dilakukan secara berkelanjutan untuk melihat perkembangan berbagai usaha yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat.

Dokumentasi : Tahapan  Penjurian Festival Desa Binaan dan beberapa produk desa binaan yang ada.
Sumber : Dokumentasi Penulis, 2022




Artikel Lainnya


MENATA KAWASAN LELOGAMA, LEMBANGNYA NTT

WISATA TEMATIK DAN DAYA SAING DTW

RESTORASI TERUMBU KARANG DI KAWASAN EKOWISATA PANTAI OESINA KABUPATEN KUPANG

MOTIF KAIN TENUN ADAT NTT UNTUK FASAD BANGUNAN

PROGRAM CSR PT. PEGADAIAN GALERI 24 DISTRO KUPANG UNTUK PANTAI WISATA LASIANA

MENJAGA KEDAULATAN RUPIAH DI KAWASAN PERBATASAN RI – TIMOR LESTE

Kota Kreatif

Lomba Geowisata Goes to School

URGENSI PELINDUNGAN HUKUM EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL (EBT) BERDASARKAN PERATURAN DAERAH UNTUK AKSELERASI PEMBANGUNAN PARIWISATA DI NUSA TENGGARA TIMUR

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT (2)

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT

Calendar of Events East Nusa Tenggara 2024

Potret Komponen Pariwisata Kota Atambua Untuk Mengembangkan Wisata Kota Perbatasan

Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata

Menulis Buku Bagi ASN Perencana

Talk Show Radio Alor : Kolaboratif untuk Mewujudkan NTT sebagai New Tourism Territory

Sertifikasi Profesi Terapis Spa Bidang Tata Kecantikan di Kota Kupang

Kegiatan Penanaman Mangrove Nasional Secara Serentak oleh Presiden Republik Indonesia

Penyelenggaraan Sertifikasi Profesi Bidang Tour Guide

SALAM GEOWISATA

TREND WISATA PASCA PANDEMI COVID-19, WISATA BALAS DENDAM?

DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT

RAGAM KULINER RAMADHAN DI KOTA KUPANG SEBUAH DAYA TARIK WISATA BUDAYA

PENYUSUNAN RENSTRA DISPAREKRAF NTT 2024-2026

BIMTEK 75 BESAR ADWI 2023

MPD SEBAGAI METODE PERHITUNGAN KUNJUNGAN WISATAWAN

SOSIALISASI MENYUSUN DUPAK

DINAS PAREKRAF NTT IKUT RAKORTEKRENBANG TAHUN 2023

BIMTEK DAN WORKSHOP ONLINE ADWI 2023 ZONA II

PUNGUT SAMPAH, PEDULI SAMPAH

Mau Belajar Sambil Rekreasi Dalam Kota?....Ayo ke Kebun TAFA

Pentingnya Perlindungan Kekayaan Intelektual bagi Berbagai Karya Cipta, Rasa dan Karsa Manusia

PENINGKATAN KAPASITAS PENYELENGGARAAN SAKIP DI PROVINSI NTT

PENYERAHAN BUKU KOLASE WISATA

Focus Group Discussion (FGD) Dukungan Data Penyusunan Grand Desain Pariwisata NTT

PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA LELOGAMA KABUPATEN KUPANG

DISPAREKRAF NTT “ IKUT” PESPARANI NASIONAL II DI KUPANG

EXPO NUSANTARA : DARI NTT UNTUK NUSANTARA

MEREKAM KOTA KUPANG DARI DE MUSEUM CAFE JKK

Workshop Peningkatan Kapasitas Pengelolaan SDGs bagi Sekretariat SDGs Provinsi NTT

BKD PROVINSI NTT SERAHKAN HASIL UJI KOMPETENSI

Transformasi Pariwisata Modern Menuju Era Industri 4.0 Melalui Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional

Dinas Parekraf Provinsi NTT Berduka

Asah Kemampuan Promosi Kreatif ASN Melalui Kegiatan Pelatihan Pemasaran Pariwisata Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)

FESTIVAL GOLO KOE : GELIAT BARU PARIWISATA LABUAN BAJO

Eksotisnya Pantai di Ujung Utara Flores

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT Selenggarakan Pelatihan Implementasi Konsep CHSE

Ruang Terbuka Publik dan Penanganannya

Sosialisasi Input Data Innovative Government Award Tahun 2022

JEJAK SUKACITA FESTIVAL MUSIM DINGIN TAHUN 2022 DI SURGA TERSEMBUNYI TIMOR TENGAH SELATAN

WELCOME LABUAN BAJO

Catatan Kecil Kegiatan Workshop Pengembangan Ekonomi Digital dan Produk Kreatif ASN

KOTA ENDE, KOTA LAHIRNYA PANCASILA

AJANG ANUGERAH PESONA INDONESIA (API) 2022

Workshop Penguatan Kapasitas Sekretariat SDGs Daerah Dalam Pengelolaan Pelaksanaan SDGs

KOTA KUPANG DALAM PAMERAN GAMBAR MALOI KUPANG

Kampung Seni Flobamorata Kupang

Lasiana Beach

KAWASAN PARIWISATA ESTATE NTT : Dimana Batas-Batasnya ? Berapa Luasnya?

Standar Operasional Prosedur Disparekraf Prov. NTT

Standar Pelayanan Publik

Maklumat Pelayanan Publik Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT

DESA GOLO LONI MENAWARKAN WISATA ARUNG JERAM DI FLORES

IDENTIFIKASI DAN WORKSHOP PENGEMBANGAN HOMESTAY DI DESA GOLO LONI KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

Wisata Aman Bencana di NTT

Catatan Perjalanan Wisata di Fatumnasi

KEGIATAN MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

KEGIATAN PRA MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

Membangun Kemandirian Lokal Menjadi Arah Pembangunan NTT 2023

Kemenparekraf Gelar Workshop Pengelolaan Event Daerah Demi Wujudkan Event Berkualitas

RUMAH BUMN, RUMAHNYA INDUSTRI KREATIF

RAPAT KOORDINASI MENDUKUNG CAPAIAN TARGET PESERTA DESA WISATA YANG AKAN MENDAFTAR DI ADWI 2022

SOSIALISASI PENGINPUTAN RKPD NTT TAHUN 2023

Buku Database 2021

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ENDE

Karya Arsitektur sebagai Daya Tarik Wisata

Pertemuan dengan Forkasse (Forum Komunikasi antar sanggar Seni Provinsi NTT)

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ALOR

DINAS PAREKRAF NTT BELAJAR APLIKASI BELA

Outlook Parekraf 2022

Mengenal Dunia Astronomi Melalui Wisata Ke Observatorium Nasional Timau Kabupaten Kupang

PROTOKOL KESEHATAN PADA DESTINASI WISATA

Semauku Indah

MENDATA POTENSI USAHA EKONOMI KREATIF DI KABUPATEN KUPANG

WISATA KOTA, KOTA WISATA

NTT Hijau dalam Pesona 1000 Bonsai

KICKOFF JABATAN FUNGSIONAL ADYATAMA KEPARIWISATAAN DAN EKONOMI KREATIF

PARIWISATA NTT BUTUH BRANDING, GUYS !

Regional Calender Tourism Events 2022

RAKOR PEMBANGUNAN PARIWISATA RING OF BEAUTY NTT

KENYAMANAN RUANG HOMESTAY

SOSIALISASI DAN SIMULASI PANDUAN SERTIFIKASI CHSE PADA PENYELENGGARAAN MICE

MENATA ARSITEKTUR KOTA LABUAN BAJO

KASUS HIV AIDS DI PROVINSI NTT TETAP MENINGKAT

Konsep Desain Monumen di Kelurahan LLBK Kota Kupang

PEMBANGUNAN DI PROVINSI NTT MEMBUTUHKAN HARMONISASI DAN SINKRONISASI

DESA WISATA, DESA WISATA TEMATIK DAN DESA WISATA HIJAU. Mana yang Cocok Untuk NTT?

Reef Check Indonesia Kembangkan Wisata Spesies dan Industri Penunjangnya di Kabupaten Kupang dan Rote Ndao

Simulasi Bencana di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov. NTT

MENDORONG STANDARISASI PELAKU PARIWISATA

Kolaborasi Kemitraan, Disparekraf NTT Gandeng Pelaku Wisata

Upaya Penerapan ISO 9001 : 2015 di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT

PEMBINAAN STATISTIK SEKTORAL PARIWISATA

Catatan Perjalanan ke Liman

Wisata Langit Gelap “Lelogama”

TALK SHOW ONLINE ANTARA BETA, DIA DAN DESTINASI WISATA NTT: KEMARIN, KINI DAN NANTI

Diseminiasi Anggaran Belanja Dinas Parekraf NTT

Konsultasi Publik Penyusunan Dokumen Antara Rencana Zonasi Kawasan Antar Wilayah Laut Bali dan Sekitarnya

Diskusi Konsep Smart Tourism di Indonesia Timur

Rapat Tim Pengelola Website Dinas Parekraf NTT

Bambu dan Prospek Pengembanganya Bagi Ekowisata NTT

Kunjungan Kerja Gubernur NTT ke Kantor Dinas Parekraf NTT

Kunjungan Bupati Malaka

Lokakarya Konsolidasi Pembentukan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana

Pertemuan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana Provinsi NTT

Literasi Desa Koanara Kabupaten Ende

Literasi Obyek Wisata Desa Praimadita Kabupaten Sumba Timur

Literasi Kabupaten Alor

Literasi Lamalera

Profile Kawasan Pariwisata Estate (PE)

MENDORONG KAMPUNG DENGE SEBAGAI PINTU GERBANG KAWASAN WISATA WAEREBO

EVALUASI DESTINASI WISATA PASCA BENCANA ALAM

Tourism Event 2022

WORKSHOP ARSITEK

DISKUSI PUBLIK PARIWISATA AMAN BENCANA DI PROVINSI NTT

MENEMUKAN POTENSI INDENTITAS FISIK KOTA KUPANG

DAYA TARIK WISATA RUMAH ADAT NTT

Belajar dari Utusan Khusus Presiden Seychelles

Pariwisata Nusa Tenggara Timur, Cerah-Cemerlang

Deseminasi Pengelolaan Website Dinas Parekraf NTT

Menggali Spirit of Place Dalam Desain Kawasan Pariwisata Estate NTT

FGD Review RIPPARNAS 2011- 2025

Penerapan CHSE Usaha Pariwisata di Provinsi NTT

Tata Kelola Persampahan Di Destinasi Wisata Super Premium Labuan Bajo

Identifikasi Awal Potensi Geowisata NTT

Waterfront City Kota Kupang Sebagai Destinasi Wisata Kota

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Panen Perdana Sayur Organik

Kajian Pengembangan KSPN Nemberala-Rote dan KSPN Alor-Kalabahi


MEDIA SOSIAL DAN KONTAK


| Dinas Pariwisata Provinsi NTT
| @thenewtourismterritory
| @PariwisataNTT


Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT
Jl. Frans Seda 2 No.72, Kayu Putih, Oebobo, Kota Kupang, 85228
(0380) 826384
082144082555