PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA LELOGAMA KABUPATEN KUPANG
Card image
Diposting oleh - Paul J. Andjelicus, Pada 05 December 2022

PENGEMBANGAN  KAWASAN WISATA  LELOGAMA  KABUPATEN KUPANG

 

Paul J. Andjelicus

 

 

Kawasan Lelogama yang terletak di Kecamatan Amfoang Selatan dan Amfoang Tengah Kabupaten Kupang dalam 5 tahun terakhir mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini karena pada tahun 2015, pemerintah membangun kawasan ini menjadi lokasi pembangunan Observatorium Nasional (ObNas) yang baru menggantikan Observatorium Boscha di Lembang Bandung. Mulai proses pembangunan sejak tahun 2017, lokasi ObNas yang berada di Hutan Lindung Gunung Timau (masuk desa Bitobe Kecamatan Amfoang Tengah) dan juga Kawasan sekitarnya seperti Kelurahan Lelogama dan desa terdekat yang berdekatan dengan lokasi ObNas mulai semakin dikenal luas dan mengundang banyak perhatian khususnya pecinta astronomi baik nasional maupun internasional.

 

Kawasan Lelogama telah menjadi salah satu tempat wisata alam dengan keindahan alamnya dan tentunya dengan kehadiran ObNas akan menjadi magnet yang luar biasa. Untuk mendukung hal tersebut berbagai pembangunan sudah mulai dilakukan khususnya pembangunan jaringan jalan untuk membuka isolasi di kawasan Amfoang. Kegiatan pembangunan berbagai infrastruktur pendukung dan rencana pembangunan kawasan wisata di kawasan ini terus dipersiapkan.

 

Kesaksian Kawasan wisata di Lelogama perlu terintegrasi dengan upaya melindungi ObNas Timau agar dapat berfungsi dengan baik selama 50 tahun ke depan. Syarat bersihnya langit sekitarnya dari polusi cahaya, udara dan gangguan frekuensi radio menjadi target utama. Rencana pengembangan kawasan wisata di sekitar ObNas Timau perlu dilakukan dengan memperhatikan semua unsur baik fisik maupun non fisik. 

 

Tulisan ini merupakan sumbangan-sumbangan gagasan untuk mengembangkan kawasan wisata Lelogama dengan tematik Wisata Astronomi sebagai penunjang keberadaan dan fungsi ObNas Timau agar mampu beroperasi sesuai tujuan dan ikut berkontribusi mengembangkan kegiatan pembangunan khususnya sektor pariwisata yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.

 

 

Potensi Daya Tarik Wisata

Kawasan Lelogama memiliki beberapa obyek daya tarik wisata yang sudah ada khususnya di bagian Selatan kawasan. Ada Bukit Lelogama atau Bukit Teletubies dan Batu Basusun di Kelurahan Lelogama. Kemudian ada air terjun Lelogama, air panas Belerang, Bukit Lulan, Cek Dam Fatumonas, Padang Savana, Kawasan Hutan Lindung Timau dan juga puncak gunung Timau dengan ketinggian 1.300 mdpl.

 

Aksesibilitas untuk mencapai Kawasan Lelogama sangatlah mudah. Ini menjadi salah satu kekuatan dan daya tarik untuk menghadirkan pengunjung. Cukup 3 jam perjalanan darat dari Kupang sudah dapat mencapai sampai Kawasan Lelogama dengan jaringan jalan yang baik dan diterima Bukit Lelogama atau yang sering disebut Bukit Teletubis. Bukit ini menjadi titik/starting point untuk menjelajahi beberapa daya tarik wisata lainnya. Sementara untuk menuju ke kawasan ObNas Timau hanya berjarak sekitar 20 km dari Kelurahan Lelogama dapat ditempuh dengan kendaraan selama 20 menit karena infrastruktur jalan yang baik.

 

Fasilitas akomodasi dan fasilitas lainnya masih terbatas khususnya warung atau resto yang menyediakan minuman hangat dan makanan khas lokal setempat. Ini menjadi potensi dan tantangan untuk dapat disiapkan secara kolaboratif baik oleh masyarakat maupun pemerintah mulai dari pemerintah desa setempat hingga kabupaten.

 

 

Kondisi Pemanfaatan Ruang

Pengembangan Kawasan wisata Lelogama tidak terlepas dari upaya untuk melindungi kawasan hutan dan juga keberadaaan tapak lokasi ObNas Timau yang masih dalam proses pembangunan. Identifikasi awal penggunaan ruang di sekitar tapak ObNas Timau berdasarkan hasil pengamatan peta google earth dan pengamatan lapangan diperoleh informasi sebagai berikut :

§ Tapak lokasi ObNas berada di wilayah Desa Bitobe Kecamatan Amfoang Tengah dan berada di Kawasan Hutan Lindung Timau dan berjarak sekitar 1,5 km dari puncak Gunung Timau.

§  Permukiman terdekat berada di Desa Bitobe sekitar 4 km (arah tenggara ObNas). Pertambahan penduduk dan kegiatan pembangunan di area bermain pada saat ini dan di masa depan akan mengubah kotoran wajah dan tentu saja berpotensi menimbulkan gangguan seperti polusi cahaya dan udara. Sementara untuk bagian kawasan lainnya dalam radius 5 km merupakan kawasan hutan lindung.

§ Pusat kecamatan Amfoang Tengah di Fatumonas berada pada radius sekitar 10 km dari tapak ObNas, sedangkan pusat Kecamatan Amfoang Selatan berada di Kelurahan Lelogama yang berada pada radius 11 km dari tapak ObNas.

§   Penyebaran lokasi wisata berada pada radius 6 – 20 km dari tapak ObNas dan terletak di wilayah Selatan sampai Timur.

 

 

Konsep Pengembangan

a.   Arahan Spasial

  •      Memperhatikan penyebaran pola dan struktur ruang, atmosfer dan infrastruktur yang ada serta persebaran daya tarik wisata yang ada maka dilakukan diskusi zonasi dengan memperhatikan jarak dari Tapak ObNas Timau;
  •      Zona Inti berjarak pada radius 5 km, yang tidak dapat dilakukan kegiatan pembangunan baru. Termasuk dalam zona ini adalah zona penyangga ObNas seluas 320 Ha;
  •     Zona Penyangga berada pada radius 5 km - 10 km dan masih berada di wilayah Hutan Lindung. Zona ini masih diperbolehkan dilakukan pembangunan secara terbatas. Daya tarik wisata baru dapat dikembangkan di zona ini yang bersifat outdoor seperti agrowisata dan wanawisata. Pembangunan memperhatikan arah tata guna lahan;
  •       Zona Penunjang berada pada radius 10-20 km dari tapak. Sebagian besar juga masih berada di kawasan hutan Lindung Timau namun diprediksi sudah banyak perubahan lahan, karena adanya ancaman di desa dan berbagai sarana dan prasarana yang terbangun. Perlu bantuan lebih lanjut di area ini. Zona ini menjadi tempat pembangunan sejumlah fasilitas penunjang pariwisata dengan memperhatikan arahan tata guna dalam rencana spasial yang ada;
  •     Pengembangan aksesebilitas di kawasan Amfoang tidak melalui jalur akses ObNas Timau. Akses ke Naikliu dan kota – kota di pantai utara Timor dan ke Timor Leste ( enclave Oecusi ) disalurkan melalui Akses Poros Tengah Oelamasi, Fatuleu, Amfoang Barat Daya dan Amfoang Barat Laut dan menelusuri jaringan jalan Pantai Utara Timor .

  

b.  Pengembangan Daya Tarik dan Pola Perjalanan Wisata

Pengembangan daya tarik wisata mengandalkan obyek wisata yang sudah ada dan pemandangan alam/view yang menarik khususnya view pemandangan yang diperoleh sepanjang jaringan jalan dari Kelurahan Lelogama menuju Desa Fatumonas. Sepanjang bagian kiri dan kanan jalan terbentang lanskap alam yang indah yang dihiasi bukit dan vegetasi dan zona langit. Para pengunjung biasanya memarkir kendaraannya di kiri dan kanan bahu jalan untuk menikmati pemandangan kawasan. Mulai dari bersantai, sesi foto / foto selfie dan lainnya.

 

Sampai saat ini belum disiapkan fasilitas untuk menunjang aktivitas ini. Perlu disiapkan fasilitas seperti rest area dan parkir agar pengunjung dapat berwisata dengan baik dan kegiatan parkir tidak mengganggu akses jalan. Fasilitas lainnya yang cocok disiapkan adalah area camping atau camping ground. Fasilitas ini dapat direncanakan untuk digunakan di berbagai tempat atau direncanakan. Jika rumit tentu memerlukan ruang hamparan terbuka yang luas.

 

Dengan obyek daya tarik wisata yang terserap maka dapat dibuat pola perjalanan wisata yang dapat memberikan kesempatan pengunjung untuk eksplorasi alam. Mulai dari bagian selatan dengan obyek daya tarik wisata seperti Batu Basusun, Bukit Lelogama, Air terjun Lelogama dan ada Air Panas di Desa Oeh Naim unrtuk wisata air pemandian air panas. Sementara di bagian utara ada Cek Dam Fatumonas, Padang Savana dan juga Lokasi ObNas Timau. Pola wisata yang ada ini akan semakin lengkap jika Taman Wisata langit Gelap yang direncanakan pihak LAPAN (sekarang menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN) terwujud.

 

 

c.      Arsitektur Kawasan

Arsitektur Kawasan wisata Lelogama diperlukan untuk menguatkan potensi daya tarik kawasan wisata dan sebagai pembeda dengan tujuan wisata lainnya yang dapat dilakukan dengan penataan fasilitas dan arsitektur bangunan.

§            §  Tata Letak Fasilitas

            Pola perletakan fasilitas disusun mengikuti beberapa pertimbangan seperti bentuk dan topografi tapak, akses jaringan jalan, posisi              utara selatan, posisi view terbaik. Perletakan juga dapat mengadopsi pola ruang bangunan tradisional yang ada yang untuk arsitektur             Timor cenderung memusat dengan bangunan utama yang berada di tengah yang dikelilingi bangunan penunjang.

 §   Arsitektur bangunan

       Bentuk – bentuk arsitektur yang dapat ditampilkan digali dari bantuk lokal setempat seperti bangunan rumah tradisional khas berbentuk          bulat atau yang disebut Ume Khubu. Kemudian bahan kayu lokal setempat, bebak, daun gewang, daun lontar dan batu.

§  

 

Catatan Akhir


Kawasan Lelogama menjadi salah satu kawasan potensial untuk pengembangan wisata dengan keragaman daya tarik wisata yang ada dan didukung oleh infrastruktur kawasan yang sudah cukup lengkap. Kehadiran Observatorium Nasional (ObNas) Timau semakin memperkuat citra Kawasan Lelogama untuk menjadi Kawasan wisata unggulan khususnya pengembangan wisata tematik astronomi.

 

Daya tarik utama Kawasan Lelogama adalah ObNas Timau dengan kecerahan langit malam kawasan yang ditunjang dengan beberapa potensi daya tarik wisata lainnya seperti keindahan alam hutan Lindung Timau, Savana Padang, Batu Basusun, Bukit Lelogama/Teletubies, Air Terjun dan Air Panas Belerang.

 

Pengembangan Kawasan Wisata Lelogama perlu menyesuaikan dengan Rencana Pembangunan Taman Wisata Langit Gelap yang dilakukan BRIN dan menjadi kawasan penyangga Observatorium dalam melindungi daya tarik kawasan utama. Koordinasi dengan pihak BRIN perlu dilakukan untuk memperoleh gagasan perencanaan kawasan Wisata Langit Gelap tersebut. Revisi perencanaan ruang Kabupaten Kupang perlu segera diselesaikan untuk mengakomodir pengembangan Kawasan Lelogama sebagai kawasan strategis nasional ilmu pengetahuan dan teknologi dan pengembangan pariwisata tematik astronomi.

 

Pembangunan daya tarik wisata baru diarahkan untuk jenis wisata agrowisata atau ruang wisata luar ruangan (indoor) karena kondisi kawasan sangat mendukung dan tidak membutuhkan fasilitas terbangun yang besar dan banyak. Sementara untuk pembangunan infrastruktur penunjang wisata diarahkan pada zona penunjang atau pada radius lebih dari 10 km dari tapak ObNas, khususnya di Kelurahan Lelogama Kecamatan Amfoang Selatan dan Desa Fatumonas Kecamatan Amfoang Tengah.


Pembangunan kawasan wisata di sekitar ObNas Timau dapat dilakukan dan terintegrasi dengan upaya perlindungan kawasan hutan Lindung Timau dan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bertolak dari hal tersebut perencanaan pembangunan pariwisata di Amfoang dengan adanya ObNas Timau di Kecamatan Amfoang Tengah perlu memperhatikan konsep Tri Partite Zone yaitu Zone Inti, Zona Penyangga dan Zona Penunjang. Hal ini karena lokasi ObNas Timau berada di Kawasan Hutan Lindung Timau dan perlu dijaga keberlangsungan operasional selama 50 tahun dengan memastikan kawasan sekitar ObNas bebas polusi cahaya dan partikel debu serta bebas dari gangguan frekuensi radio.


Penulis merupakan Perencana Madya Spasial Dinas Parekraf NTT

Anggota IAI Provinsi NTT



Artikel Lainnya


MENATA KAWASAN LELOGAMA, LEMBANGNYA NTT

WISATA TEMATIK DAN DAYA SAING DTW

RESTORASI TERUMBU KARANG DI KAWASAN EKOWISATA PANTAI OESINA KABUPATEN KUPANG

MOTIF KAIN TENUN ADAT NTT UNTUK FASAD BANGUNAN

PROGRAM CSR PT. PEGADAIAN GALERI 24 DISTRO KUPANG UNTUK PANTAI WISATA LASIANA

MENJAGA KEDAULATAN RUPIAH DI KAWASAN PERBATASAN RI – TIMOR LESTE

Kota Kreatif

Lomba Geowisata Goes to School

URGENSI PELINDUNGAN HUKUM EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL (EBT) BERDASARKAN PERATURAN DAERAH UNTUK AKSELERASI PEMBANGUNAN PARIWISATA DI NUSA TENGGARA TIMUR

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT (2)

PENGEMBANGAN WISATA KOTA DI NTT

Calendar of Events East Nusa Tenggara 2024

Potret Komponen Pariwisata Kota Atambua Untuk Mengembangkan Wisata Kota Perbatasan

Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata

Menulis Buku Bagi ASN Perencana

Talk Show Radio Alor : Kolaboratif untuk Mewujudkan NTT sebagai New Tourism Territory

Sertifikasi Profesi Terapis Spa Bidang Tata Kecantikan di Kota Kupang

Kegiatan Penanaman Mangrove Nasional Secara Serentak oleh Presiden Republik Indonesia

Penyelenggaraan Sertifikasi Profesi Bidang Tour Guide

SALAM GEOWISATA

TREND WISATA PASCA PANDEMI COVID-19, WISATA BALAS DENDAM?

DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT

RAGAM KULINER RAMADHAN DI KOTA KUPANG SEBUAH DAYA TARIK WISATA BUDAYA

PENYUSUNAN RENSTRA DISPAREKRAF NTT 2024-2026

BIMTEK 75 BESAR ADWI 2023

MPD SEBAGAI METODE PERHITUNGAN KUNJUNGAN WISATAWAN

SOSIALISASI MENYUSUN DUPAK

DINAS PAREKRAF NTT IKUT RAKORTEKRENBANG TAHUN 2023

BIMTEK DAN WORKSHOP ONLINE ADWI 2023 ZONA II

PUNGUT SAMPAH, PEDULI SAMPAH

Mau Belajar Sambil Rekreasi Dalam Kota?....Ayo ke Kebun TAFA

Pentingnya Perlindungan Kekayaan Intelektual bagi Berbagai Karya Cipta, Rasa dan Karsa Manusia

Festival Desa Binaan Bank NTT dan Upaya Pengembangan Ekonomi Kreatif dalam Kerangka Pemberdayaan Masyarakat

PENINGKATAN KAPASITAS PENYELENGGARAAN SAKIP DI PROVINSI NTT

PENYERAHAN BUKU KOLASE WISATA

Focus Group Discussion (FGD) Dukungan Data Penyusunan Grand Desain Pariwisata NTT

DISPAREKRAF NTT “ IKUT” PESPARANI NASIONAL II DI KUPANG

EXPO NUSANTARA : DARI NTT UNTUK NUSANTARA

MEREKAM KOTA KUPANG DARI DE MUSEUM CAFE JKK

Workshop Peningkatan Kapasitas Pengelolaan SDGs bagi Sekretariat SDGs Provinsi NTT

BKD PROVINSI NTT SERAHKAN HASIL UJI KOMPETENSI

Transformasi Pariwisata Modern Menuju Era Industri 4.0 Melalui Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional

Dinas Parekraf Provinsi NTT Berduka

Asah Kemampuan Promosi Kreatif ASN Melalui Kegiatan Pelatihan Pemasaran Pariwisata Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)

FESTIVAL GOLO KOE : GELIAT BARU PARIWISATA LABUAN BAJO

Eksotisnya Pantai di Ujung Utara Flores

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT Selenggarakan Pelatihan Implementasi Konsep CHSE

Ruang Terbuka Publik dan Penanganannya

Sosialisasi Input Data Innovative Government Award Tahun 2022

JEJAK SUKACITA FESTIVAL MUSIM DINGIN TAHUN 2022 DI SURGA TERSEMBUNYI TIMOR TENGAH SELATAN

WELCOME LABUAN BAJO

Catatan Kecil Kegiatan Workshop Pengembangan Ekonomi Digital dan Produk Kreatif ASN

KOTA ENDE, KOTA LAHIRNYA PANCASILA

AJANG ANUGERAH PESONA INDONESIA (API) 2022

Workshop Penguatan Kapasitas Sekretariat SDGs Daerah Dalam Pengelolaan Pelaksanaan SDGs

KOTA KUPANG DALAM PAMERAN GAMBAR MALOI KUPANG

Kampung Seni Flobamorata Kupang

Lasiana Beach

KAWASAN PARIWISATA ESTATE NTT : Dimana Batas-Batasnya ? Berapa Luasnya?

Standar Operasional Prosedur Disparekraf Prov. NTT

Standar Pelayanan Publik

Maklumat Pelayanan Publik Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov NTT

DESA GOLO LONI MENAWARKAN WISATA ARUNG JERAM DI FLORES

IDENTIFIKASI DAN WORKSHOP PENGEMBANGAN HOMESTAY DI DESA GOLO LONI KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

Wisata Aman Bencana di NTT

Catatan Perjalanan Wisata di Fatumnasi

KEGIATAN MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

KEGIATAN PRA MUSRENBANG NTT TAHUN 2022

Membangun Kemandirian Lokal Menjadi Arah Pembangunan NTT 2023

Kemenparekraf Gelar Workshop Pengelolaan Event Daerah Demi Wujudkan Event Berkualitas

RUMAH BUMN, RUMAHNYA INDUSTRI KREATIF

RAPAT KOORDINASI MENDUKUNG CAPAIAN TARGET PESERTA DESA WISATA YANG AKAN MENDAFTAR DI ADWI 2022

SOSIALISASI PENGINPUTAN RKPD NTT TAHUN 2023

Buku Database 2021

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ENDE

Karya Arsitektur sebagai Daya Tarik Wisata

Pertemuan dengan Forkasse (Forum Komunikasi antar sanggar Seni Provinsi NTT)

WORKSHOP PENGEMBANGAN SENI BUDAYA KABUPATEN ALOR

DINAS PAREKRAF NTT BELAJAR APLIKASI BELA

Outlook Parekraf 2022

Mengenal Dunia Astronomi Melalui Wisata Ke Observatorium Nasional Timau Kabupaten Kupang

PROTOKOL KESEHATAN PADA DESTINASI WISATA

Semauku Indah

MENDATA POTENSI USAHA EKONOMI KREATIF DI KABUPATEN KUPANG

WISATA KOTA, KOTA WISATA

NTT Hijau dalam Pesona 1000 Bonsai

KICKOFF JABATAN FUNGSIONAL ADYATAMA KEPARIWISATAAN DAN EKONOMI KREATIF

PARIWISATA NTT BUTUH BRANDING, GUYS !

Regional Calender Tourism Events 2022

RAKOR PEMBANGUNAN PARIWISATA RING OF BEAUTY NTT

KENYAMANAN RUANG HOMESTAY

SOSIALISASI DAN SIMULASI PANDUAN SERTIFIKASI CHSE PADA PENYELENGGARAAN MICE

MENATA ARSITEKTUR KOTA LABUAN BAJO

KASUS HIV AIDS DI PROVINSI NTT TETAP MENINGKAT

Konsep Desain Monumen di Kelurahan LLBK Kota Kupang

PEMBANGUNAN DI PROVINSI NTT MEMBUTUHKAN HARMONISASI DAN SINKRONISASI

DESA WISATA, DESA WISATA TEMATIK DAN DESA WISATA HIJAU. Mana yang Cocok Untuk NTT?

Reef Check Indonesia Kembangkan Wisata Spesies dan Industri Penunjangnya di Kabupaten Kupang dan Rote Ndao

Simulasi Bencana di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov. NTT

MENDORONG STANDARISASI PELAKU PARIWISATA

Kolaborasi Kemitraan, Disparekraf NTT Gandeng Pelaku Wisata

Upaya Penerapan ISO 9001 : 2015 di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT

PEMBINAAN STATISTIK SEKTORAL PARIWISATA

Catatan Perjalanan ke Liman

Wisata Langit Gelap “Lelogama”

TALK SHOW ONLINE ANTARA BETA, DIA DAN DESTINASI WISATA NTT: KEMARIN, KINI DAN NANTI

Diseminiasi Anggaran Belanja Dinas Parekraf NTT

Konsultasi Publik Penyusunan Dokumen Antara Rencana Zonasi Kawasan Antar Wilayah Laut Bali dan Sekitarnya

Diskusi Konsep Smart Tourism di Indonesia Timur

Rapat Tim Pengelola Website Dinas Parekraf NTT

Bambu dan Prospek Pengembanganya Bagi Ekowisata NTT

Kunjungan Kerja Gubernur NTT ke Kantor Dinas Parekraf NTT

Kunjungan Bupati Malaka

Lokakarya Konsolidasi Pembentukan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana

Pertemuan Tim Kajian Pariwisata Aman Bencana Provinsi NTT

Literasi Desa Koanara Kabupaten Ende

Literasi Obyek Wisata Desa Praimadita Kabupaten Sumba Timur

Literasi Kabupaten Alor

Literasi Lamalera

Profile Kawasan Pariwisata Estate (PE)

MENDORONG KAMPUNG DENGE SEBAGAI PINTU GERBANG KAWASAN WISATA WAEREBO

EVALUASI DESTINASI WISATA PASCA BENCANA ALAM

Tourism Event 2022

WORKSHOP ARSITEK

DISKUSI PUBLIK PARIWISATA AMAN BENCANA DI PROVINSI NTT

MENEMUKAN POTENSI INDENTITAS FISIK KOTA KUPANG

DAYA TARIK WISATA RUMAH ADAT NTT

Belajar dari Utusan Khusus Presiden Seychelles

Pariwisata Nusa Tenggara Timur, Cerah-Cemerlang

Deseminasi Pengelolaan Website Dinas Parekraf NTT

Menggali Spirit of Place Dalam Desain Kawasan Pariwisata Estate NTT

FGD Review RIPPARNAS 2011- 2025

Penerapan CHSE Usaha Pariwisata di Provinsi NTT

Tata Kelola Persampahan Di Destinasi Wisata Super Premium Labuan Bajo

Identifikasi Awal Potensi Geowisata NTT

Waterfront City Kota Kupang Sebagai Destinasi Wisata Kota

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Panen Perdana Sayur Organik

Kajian Pengembangan KSPN Nemberala-Rote dan KSPN Alor-Kalabahi


MEDIA SOSIAL DAN KONTAK


| Dinas Pariwisata Provinsi NTT
| @thenewtourismterritory
| @PariwisataNTT


Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT
Jl. Frans Seda 2 No.72, Kayu Putih, Oebobo, Kota Kupang, 85228
(0380) 826384
082144082555